Hydration Break Piala Dunia 2026, Ternyata Bukan Cuma Karena Cuaca Panas
JAKARTA, GENVOICE.ID - Piala Dunia 2026 bakal menghadirkan banyak perubahan dibanding edisi-edisi sebelumnya. Selain jumlah peserta yang bertambah menjadi 48 tim, ada satu aturan baru yang juga menarik perhatian banyak pecinta sepak bola, yaitu penerapan hydration break atau jeda hidrasi di setiap pertandingan.
Kebijakan ini membuat banyak penggemar bertanya-tanya. Selama puluhan tahun, pertandingan sepak bola hanya mengenal jeda saat turun minum. Namun di Piala Dunia 2026, pemain akan mendapatkan waktu istirahat tambahan di tengah babak pertama dan babak kedua. Aturan tersebut pun langsung memunculkan berbagai perdebatan, mulai dari alasan kesehatan hingga dugaan adanya kepentingan bisnis di balik keputusan tersebut.
Gen, FIFA menyebut aturan baru ini dibuat demi menjaga kondisi para pemain selama bertanding. Namun di sisi lain, tidak sedikit yang menilai keputusan tersebut juga bisa memberikan keuntungan bagi pihak penyiar. Lantas, apa sebenarnya alasan di balik penerapan hydration break di Piala Dunia 2026?
Langkah untuk melindungi kondisi pemain
Alasan utama diterapkannya hydration break adalah faktor cuaca. Sejumlah kota tuan rumah Piala Dunia 2026 diperkirakan akan mengalami suhu yang cukup tinggi saat turnamen berlangsung.
Kondisi tersebut membuat risiko dehidrasi menjadi lebih besar, terutama bagi para pemain yang harus berlari dan bermain dengan intensitas tinggi selama 90 menit atau lebih.
Karena itu, FIFA mewajibkan adanya jeda hidrasi selama tiga menit pada setiap pertandingan. Jeda ini akan berlangsung di menit ke-22 pada babak pertama dan kembali dilakukan pada babak kedua agar para pemain memiliki kesempatan untuk minum serta memulihkan kondisi tubuh.
Tujuan utamanya adalah mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat panas ekstrem sekaligus menjaga keselamatan seluruh pemain yang berada di lapangan.
Pertandingan terasa seperti empat kuarter
Aturan baru ini juga membuat ritme pertandingan sedikit berbeda dibanding biasanya.
Dengan adanya dua kali hydration break ditambah waktu turun minum, jalannya pertandingan akan memiliki lebih banyak jeda. Sebagian penggemar bahkan menilai format tersebut membuat pertandingan sepak bola terasa menyerupai olahraga yang menggunakan sistem empat kuarter.
Perubahan ritme ini menjadi salah satu hal yang paling banyak diperbincangkan menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026.
Muncul dugaan ada kepentingan komersial
Meski alasan kesehatan menjadi dasar utama kebijakan tersebut, hydration break ternyata juga memunculkan kontroversi.
Sejumlah pihak menilai jeda tambahan itu bisa dimanfaatkan oleh stasiun televisi untuk menayangkan iklan. Dengan adanya waktu istirahat selama beberapa menit, penyiar memiliki ruang tambahan untuk menampilkan slot komersial yang sebelumnya tidak tersedia ketika pertandingan berlangsung tanpa jeda.
Karena itu, muncul anggapan bahwa kebijakan hydration break tidak hanya berkaitan dengan perlindungan terhadap pemain, tetapi juga berpotensi memberikan keuntungan dari sisi bisnis dan penyiaran.
Meski menuai pro dan kontra, FIFA tetap menjadikan faktor kesehatan sebagai alasan utama penerapan aturan tersebut. Di tengah ancaman suhu tinggi di beberapa kota tuan rumah, hydration break diharapkan mampu membantu pemain tetap berada dalam kondisi terbaik sepanjang pertandingan sekaligus mengurangi risiko dehidrasi selama Piala Dunia 2026 berlangsung.