Tiongkok Uji Pesawat Bertenaga ‘Air’, Teknologi Baru Ini Disebut Bisa Kurangi Ketergantungan Minyak

Genvoice.id | 17 May 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Tiongkok kembali mencuri perhatian dunia setelah berhasil melakukan uji terbang pesawat kargo tanpa awak berbahan bakar hidrogen cair. Teknologi tersebut disebut menjadi langkah besar dalam pengembangan pesawat masa depan yang lebih ramah lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi.

Pesawat kargo tak berawak seberat 7,5 ton itu melakukan penerbangan uji di Zhuzhou, Provinsi Hunan, pada 4 April 2026. Dalam pengujian tersebut, pesawat berhasil terbang hingga ketinggian 300 meter dengan kecepatan mencapai 220 kilometer per jam sebelum akhirnya mendarat dengan aman setelah 16 menit penerbangan.

Teknologi utama di balik pesawat tersebut adalah mesin turboprop hidrogen bernama AEP100 yang dikembangkan oleh Aero Engine Corporation of China atau AECC. Menurut laporan yang dikutip dari Xinhua, pengujian itu disebut menjadi penerbangan uji pertama di dunia untuk mesin turboprop hidrogen dengan skala daya sebesar itu.

Selama proses penerbangan berlangsung, mesin dilaporkan bekerja stabil sejak lepas landas hingga mendarat. Para ahli dari AECC menyebut keberhasilan tersebut membuktikan bahwa Tiongkok kini sudah memiliki rantai teknologi lengkap untuk pengembangan mesin penerbangan berbahan bakar hidrogen.

Yang membuat teknologi ini berbeda adalah cara mesin menghasilkan tenaga untuk pesawat. AEP100 membakar hidrogen cair secara langsung di dalam siklus turbin, mirip seperti mesin jet konvensional yang menggunakan kerosin sebagai bahan bakar utama.

Pendekatan tersebut berbeda dari strategi yang digunakan sejumlah perusahaan Barat seperti Airbus. Selama ini, Airbus lebih fokus mengembangkan pesawat hidrogen berbasis sel bahan bakar untuk menghasilkan listrik yang kemudian menggerakkan motor pesawat.

Para peneliti menilai pembakaran langsung hidrogen memiliki keunggulan dalam menghasilkan tenaga lebih besar dan lebih mudah dikembangkan untuk pesawat ukuran besar. Namun teknologi ini juga menghadapi tantangan serius karena hidrogen cair harus disimpan pada suhu kriogenik ekstrem hingga minus 253 derajat Celsius.

AECC belum mengungkap secara detail bagaimana sistem penyimpanan bahan bakar tersebut menjaga suhu hidrogen cair tetap stabil selama penerbangan berlangsung. Karena itu, pengujian kali ini disebut masih tahap awal untuk membuktikan kestabilan operasional mesin dalam waktu singkat.

Tiongkok sendiri disebut mulai serius mengembangkan teknologi penerbangan hidrogen di tengah meningkatnya tekanan global terhadap pasar minyak dunia. Gangguan geopolitik di Timur Tengah dan ancaman terhadap jalur distribusi minyak seperti Selat Hormuz menjadi salah satu alasan negara tersebut mencari alternatif energi baru.

Pemerintah Tiongkok juga melihat teknologi hidrogen bukan hanya sebagai solusi lingkungan, tetapi juga bagian dari strategi keamanan energi nasional. Mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil dianggap menjadi langkah penting bagi masa depan industri penerbangan negara tersebut.

Dalam roadmap yang dipublikasikan para peneliti Tiongkok, pengembangan teknologi penerbangan hidrogen akan dilakukan secara bertahap hingga 2050. Tahap pertama ditargetkan selesai pada 2028 untuk validasi teknologi utama sebelum nantinya diterapkan pada pesawat regional dan komersial.

Meski masih membutuhkan pengembangan panjang, keberhasilan uji coba tersebut langsung menarik perhatian dunia penerbangan internasional. Banyak pihak menilai teknologi pesawat berbahan bakar hidrogen bisa menjadi awal perubahan besar dalam industri aviasi global di masa depan.