Benarkah Warga Desa Tidak Terdampak Jika Dollar Naik? Cek Penjelasannya di Sini!

Genvoice.id | 17 May 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Pernyataan Prabowo Subianto soal warga desa yang tidak menggunakan dolar sempat jadi perbincangan.

Tapi kalau ditarik lebih dalam, realitanya ternyata nggak sesederhana itu.

Memang benar, aktivitas ekonomi di desa umumnya tidak menggunakan mata uang asing. Transaksi sehari-hari tetap pakai rupiah, mulai dari jual beli hasil tani sampai kebutuhan pokok.

Meskipun nggak pakai dolar secara langsung, pelemahan rupiah tetap bisa berdampak. Soalnya, banyak kebutuhan penting yang bergantung pada impor, seperti BBM, pupuk, hingga bahan pangan tertentu. Ketika nilai tukar rupiah melemah, harga barang-barang tersebut cenderung naik. Nah, kenaikan ini yang akhirnya ikut dirasakan masyarakat, termasuk di desa.

Ekonomi itu saling terhubung. Ketika biaya impor naik, distribusi ikut mahal, dan ujungnya harga di pasar juga meningkat. Jadi meskipun masyarakat desa tidak berhubungan langsung dengan dolar, mereka tetap terkena efek berantai.

Contohnya, harga pupuk yang naik bisa berdampak ke hasil panen. Atau harga BBM naik yang bikin ongkos distribusi barang jadi lebih mahal. Bisa dibilang, semua lapisan masyarakat terdampak, hanya saja dengan cara yang berbeda. Di kota mungkin terasa lewat harga barang impor atau cicilan, sementara di desa lebih ke kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.

Pernyataan bahwa warga desa tidak memakai dolar memang benar secara teknis. Tapi dampak pelemahan rupiah tetap bisa dirasakan secara tidak langsung.

Karena pada akhirnya, ekonomi global dan lokal itu saling terhubung. Dan perubahan di satu sisi bisa merambat ke sisi lainnya, termasuk sampai ke desa.