Masalah Terbesar Michael Carrick di MU, Taktik Pergantian Pemain yang Lambat Bikin Fans Emosi
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kekalahan menyakitkan Manchester United dari Leeds United baru-baru ini ternyata berbuntut panjang dan membuka luka lama soal gaya kepemimpinan Michael Carrick di pinggir lapangan. Meskipun sempat membawa tren positif sejak ditunjuk sebagai pelatih interim, performa Carrick kali ini benar-benar dihujani kritik tajam oleh para pengamat sepak bola dan pendukung setia Setan Merah.
Masalah utamanya bukan cuma soal strategi di atas kertas, tapi keputusan Carrick yang dinilai sangat pasif dan pelit dalam melakukan pergantian pemain, bahkan di saat tim sedang dalam kondisi darurat medis alias kritis.
Perdebatan ini makin memanas karena dalam laga tersebut, United sudah tertinggal dua gol sejak babak pertama, namun anehnya tidak ada satu pun tenaga baru yang dimasukkan saat jeda pertandingan. Keputusan diam di tempat ini bener-bener bikin dahi berkerut, apalagi melihat tim lawan yang terus menekan tanpa ampun, Gen.
Keadaan jadi makin kacau balau setelah bek andalan Lisandro Martinez harus mandi lebih cepat gara-gara kartu merah di menit ke-56. Logikanya, seorang pelatih bakal langsung melakukan perubahan taktik atau memasukkan bek baru buat nutup lubang, kan? Tapi tidak dengan Carrick.
Dia malah membiarkan skuadnya yang pincang bertarung sendirian tanpa bantuan dari bangku cadangan sampai menit ke-70. Bayangkan, butuh waktu 14 menit buat Carrick sadar kalau timnya butuh Bryan Mbeumo dan Diogo Dalot. Padahal, saat itu United sudah ngos-ngosan buat mengejar ketertinggalan.
Yang lebih bikin heran, pemain sekaliber Joshua Zirkzee dan Mason Mount cuma jadi penonton setia di bangku cadangan sampai peluit akhir bunyi, sementara Manuel Ugarte malah dipaksa main jadi bek tengah dadakan yang jelas bukan posisi aslinya.
Ternyata, kalau kita bedah datanya, kebiasaan "ngirit" pemain ini bukan cuma kebetulan sekali dua kali saja. Carrick tercatat sebagai salah satu pelatih paling pelit ganti pemain di seluruh Premier League musim ini. Rata-rata dia cuma melakukan 3,5 pergantian per laga, angka yang jauh banget di bawah standar pelatih top lain kayak Pep Guardiola atau Arne Slot.
Yang lebih parah lagi, Carrick punya hobi nunggu lama banget buat masukin pemain pertama, biasanya baru di atas menit ke-65. Pernah ada satu momen lawan Crystal Palace dia ganti pemain cepat di menit ke-24, tapi itu pun cuma karena Luke Shaw mendadak sakit. Kalau nggak ada kejadian itu, rata-rata waktu pergantian pertamanya bisa menyentuh menit ke-69. Bener-bener gaya yang sangat konservatif buat tim sebesar United.
Carrick sendiri punya alasan dibalik filosofi "slow respon" miliknya ini. Dia mengaku semua keputusannya didasarkan pada feel of the game atau intuisi pribadinya saat melihat dinamika di lapangan. Dia lebih suka mempertahankan struktur tim biar para pemain nggak bingung sama peran mereka masing-masing.
Baginya, pergantian pemain harus benar-benar menghadirkan atribut spesifik yang emang dibutuhin tim saat itu juga, bukan cuma sekadar ganti nama.
Gaya nunggu ini sebenarnya adalah penyakit lama yang sudah dibawa Carrick sejak masih melatih Middlesbrough. Dulu di sana, dia juga sering telat merespons perubahan taktik lawan, yang akhirnya bikin timnya kena comeback menyakitkan kayak pas lawan Bristol City dan Millwall. Saat dikritik soal hobinya yang telat ganti pemain ini, Carrick dengan santai pernah bilang:
"Jika rencana berjalan dan kami menang, itu keputusan yang bagus. Ketika tidak, orang akan mempertanyakannya, dan saya memahami itu."
Komentar ini jelas menunjukkan kalau Carrick sangat teguh sama prosesnya, walaupun taruhannya adalah hasil di lapangan yang nggak selalu berpihak ke dia. Jadi gimana nih menurut kalian, apakah gaya Carrick yang super tenang ini masih cocok buat atmosfer Liga Inggris yang makin kompetitif, atau justru ini bakal jadi batu sandungan buat Manchester United ke depannya, Gen? Tetap kawal terus ya!