Tiongkok Boikot Boeing, Larang Maskapai Terima Pesawat AS di Tengah Perang Dagang

Genvoice.id | 17 Apr 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Ketegangan dagang antara dua raksasa ekonomi dunia makin panas.

Pemerintah Tiongkok dikabarkan telah memerintahkan seluruh maskapai penerbangan domestik untuk menghentikan penerimaan pengiriman pesawat Boeing asal Amerika Serikat. Tak hanya itu, pembelian suku cadang dan perlengkapan penerbangan dari perusahaan AS juga ikut dibekukan.

Langkah ini jadi balasan atas kebijakan tarif tinggi dari pemerintahan Donald Trump. Pada Jumat lalu, Tiongkok resmi menaikkan tarif balasan hingga 125% terhadap produk AS, menyusul kebijakan Washington yang lebih dulu mengenakan bea masuk 145% untuk barang-barang impor dari Negeri Tirai Bambu.

Mengutip laporan Bloomberg, sekitar 10 unit Boeing 737 Max sebenarnya sudah siap bergabung ke jajaran maskapai Tiongkok. Namun, hanya unit yang proses pembayaran dan dokumennya rampung sebelum tarif diberlakukan yang kemungkinan besar tetap bisa diterima.

Kebijakan ini jadi pukulan telak buat Boeing yang selama ini mengandalkan pasar Asia, khususnya Tiongkok, sebagai salah satu penyumbang penjualan terbesar. Tak hanya itu, larangan ini juga berdampak domino bagi para pemasok komponen pesawat asal AS.

CEO maskapai penerbangan berbiaya rendah Ryanair, Michael O'Leary, bahkan mengaku siap menunda pengiriman 25 unit pesawat Boeing yang dijadwalkan mulai Agustus. Ia menilai langkah itu bisa jadi cara untuk menunggu "akal sehat kembali" di tengah kekacauan perang tarif ini.

Saham Boeing ikut terhempas, dengan penurunan nilai sebesar 7% sejak awal tahun. Kekhawatiran investor meningkat, apalagi banyak yang menilai perusahaan telah terlalu fokus pada ekspansi pasar dan kurang investasi di sektor teknis dan engineering.

Sementara itu, kompetitor asal Eropa, Airbus, juga kena imbas. CEO mereka, Guillaume Faury, menyatakan bahwa produksi pesawat A350 dan A220 terganggu akibat masalah pengiriman komponen dari perusahaan AS, Spirit AeroSystems.

Di tengah gejolak tersebut, Presiden Trump sempat menarik rem darurat dengan menangguhkan rencana tarif untuk produk seperti smartphone dan laptop, langkah yang sempat mengangkat indeks S&P 500 sebesar 0,7%. Namun, pasar masih diliputi ketidakpastian, terutama soal kemungkinan tarif baru untuk chip komputer dan produk farmasi.

Meski panas di satu sisi, ada angin segar dari raksasa teknologi Nvidia, yang mengumumkan investasi hingga $500 miliar untuk membangun infrastruktur AI di Amerika dalam empat tahun ke depan, sebuah langkah strategis di tengah ketegangan perdagangan global.

Dari Asia, pasar saham Jepang dan Korea Selatan justru ikut terdongkrak. Indeks Nikkei naik 0,8%, sementara Kospi melonjak 0,9%, didorong sinyal positif dari Trump yang mengisyaratkan bantuan untuk industri otomotif.