Internal Tim Memanas, Ferrari Siap Rekrut Christian Horner Musim Depan?
JAKARTA, Genvoice.id - Situasi internal tim Ferrari dikabarkan sedang memanas menjelang akhir musim Formula 1 2025. Di tengah performa yang belum sesuai harapan, muncul rumor mengejutkan bahwa pabrikan asal Italia itu tengah mempertimbangkan untuk merekrut Christian Horner, mantan bos tim Red Bull Racing sebagai pemimpin baru musim depan.
Spekulasi ini beredar setelah beberapa media Eropa, termasuk Motorsport Week dan Crash.net melaporkan bahwa Ferrari mulai kehilangan kepercayaan pada Frederic Vasseur yang kini menjabat sebagai Team Principal. Hasil yang tidak konsisten dan menurunnya kinerja tim di paruh kedua musim disebut menjadi pemicu utama munculnya wacana pergantian pimpinan.
Laporan dari Motorsport Week menyebutkan bahwa tekanan dari internal manajemen Ferrari, termasuk Presiden John Elkann, semakin meningkat. Bahkan, harga saham Ferrari dikabarkan sempat turun hingga 15 persen dalam beberapa bulan terakhir akibat hasil balapan yang mengecewakan.
Nama Christian Horner muncul sebagai kandidat kuat setelah dirinya resmi berpisah dengan Red Bull pada pertengahan musim 2025. Horner yang memimpin Red Bull sejak 2005, dikenal sebagai salah satu manajer paling sukses di era modern Formula 1 dengan enam gelar juara dunia konstruktor dan tujuh gelar pembalap.
Sumber internal yang dikutip oleh Crash.net menyebut bahwa Ferrari sudah melakukan komunikasi awal dengan pihak Horner. Pihak manajemen Maranello diyakini tertarik pada gaya kepemimpinan Horner yang tegas dan kemampuannya membangun tim yang solid dari nol.
Meski begitu, upaya Ferrari untuk mendatangkan Horner tidak akan mudah. Salah satu hambatan utama adalah klausul "gardening leave" yang berlaku dalam kontrak Horner dengan Red Bull, yang mencegahnya bergabung dengan tim F1 lain hingga pertengahan 2026.
Selain itu, budaya organisasi Ferrari yang sangat hierarkis juga disebut bisa menjadi tantangan tersendiri bagi Horner, yang selama ini dikenal ingin memiliki kendali penuh terhadap strategi dan arah teknis tim.
Sementara itu, posisi Frederic Vasseur sebagai Team Principal semakin disorot. Meski kontraknya baru diperpanjang awal tahun ini, tekanan untuk menunjukkan hasil nyata semakin kuat. Kegagalan Ferrari dalam perebutan gelar konstruktor dan pembalap membuat sebagian petinggi menilai bahwa perubahan kepemimpinan bisa menjadi solusi jangka pendek.
Vasseur sendiri dilaporkan tetap fokus mempersiapkan proyek 2026, yang akan menjadi awal era mesin baru Formula 1. Namun, jika hasil di akhir musim ini tidak membaik, bukan tidak mungkin kursinya akan digantikan oleh sosok baru.
Sampai saat ini, baik Ferrari maupun Horner belum memberikan pernyataan resmi terkait rumor ini. Namun, kabar tersebut terus berkembang dan menjadi perbincangan hangat di paddock F1.