Fase Lanjutan Gencatan Senjata di Gaza Jadi Tahapan Krusial
WASHINGTON - Wakil Rektor Tiga, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam, mengatakan, fase lanjutan dari kesepakatan gencatan senjata di Gaza merupakan tahapan yang krusial karena akan banyak perbedaan tuntutan dan kepentingan dari kedua pihak yang sulit ditemukan titik tengahnya.
"Trump memang mengatakan Hamas bersedia menyerahkan senjatanya, namun itu tentu bergantung sejauh mana pihak Israel mundur dan tidak melakukan serangan kembali. Karena dari yang diberitakan masih ada serangan yang mengakibatkan korban jiwa pada warga sipil. Ini tentu bisa menjadi alasan untuk menahan penyerahan senjata Hamas," katanya, Rabu (15/10) menanggapi fase dua gencatan senjata yang diumumkan Presiden AS Donald Trump.
Dia mengakui, peran Trump katanya cukup krusial dalam menekan kedua pihak, jadi mungkin sekali lagi dia harus turun tangan untuk memastikan tuntutan dan janji masing-masing pihak untuk mundur dan menghentikan kekerasan bisa terwujud.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan dimulainya "fase dua" dari perjanjian gencatan senjata di Gaza setelah 20 sandera Israel dibebaskan dalam tahap pertama kesepakatan yang dimediasi oleh Turki, AS, Qatar, dan Mesir.
"Seluruh dua puluh sandera telah kembali dan perasaan adalah sebaik yang diharapkan," tulis Trump di platform media sosial miliknya, Truth Social, pada Selasa (14/10).
"Sebuah beban besar telah terangkat, tetapi pekerjaan belum selesai. Mereka yang tewas belum dipulangkan, seperti yang dijanjikan! Fase Dua dimulai sekarang juga!!!" tambahnya.
Hamas dan Israel melakukan pertukaran sandera-tahanan yang membebaskan ratusan tahanan Palestina dari penjara militer Ofer yang terkenal kejam di Israel, dan fasilitas penahanan lainnya di Gurun Negev. Semua 20 sandera Israel yang masih hidup juga dibebaskan.
Trump dan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi mengadakan pertemuan tingkat tinggi pada Senin di kota resor Mesir, Sharm el-Sheikh, yang mempertemukan para pemimpin dunia untuk menggalang dukungan internasional terhadap rencana gencatan senjata Trump di Gaza.
Pemerintahan Baru
Fase dua dari kesepakatan AS menyerukan pembentukan mekanisme Pemerintahan baru di Gaza, pembentukan pasukan multinasional, dan perlucutan senjata Hamas.
Sejak Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 67.000 warga Palestina di Gaza, yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, meninggalkan wilayah kantong tersebut hampir tidak layak huni.
Operasi bantuan di Gaza ditingkatkan sejak gencatan senjata, kata badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (14/10), seraya menyebut pembatasan baru Israel terhadap truk yang masuk ke Jalur Gaza.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan otoritas Israel mengizinkan 817 truk bantuan masuk ke Gaza pada Minggu (12/10). OCHA belum memiliki angka pasti untuk Senin (13/10) dan tidak ada pengiriman yang dilakukan pada Selasa.
Namun, OCHA menyatakan masih ada sejumlah truk bantuan dari Senin yang belum diberangkatkan dari titik-titik perlintasan untuk didistribusikan di Gaza, yang jumlahnya tidak disebutkan.
Juru Bicara (Jubir) OCHA Olga Cherevko menyebut Israel yang menyatakan akan membatasi jumlah truk bantuan yang memasuki Jalur Gaza menjadi 300 setiap hari karena keterlambatan Hamas dalam penyerahan jasad para sandera yang meninggal.
"Kami telah menerima komunikasi penting ini dari otoritas Israel dan tentu saja, kami terus mendorong para pihak untuk mematuhi kesepakatan yang telah ditetapkan dalam kesepakatan gencatan senjata. Kami tentu sangat berharap jasad para sandera diserahkan dan gencatan senjata terus dilaksanakan," kata Cherevko.