Di Luar Nalar, Perkara Makanan Keasinan Suami Ini Tega Pukuli Istri yang Sedang Hamil hingga Tewas!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kisah pilu datang dari Distrik Kasganj, India, di mana seorang ibu hamil berusia 25 tahun, Brajbala, meninggal dunia secara tragis. Ia diduga menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan oleh suaminya sendiri, Ramu.
Ironisnya, pemicu peristiwa nahas ini adalah masalah sepele, yaitu masakan yang dianggap terlalu asin. Kasus ini kembali menyoroti tingginya angka kekerasan terhadap perempuan di India, dan menjadi pengingat pahit tentang bahaya kekerasan domestik yang bisa berujung fatal.
Insiden yang terjadi pada Kamis (4/9) ini viral di media sosial setelah dikabarkan oleh laman The Logical Indian. Menurut informasi dari kepolisian, pertengkaran antara Brajbala dan suaminya memuncak hingga Brajbala terjatuh dari atap rumah dan menderita luka parah. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi sayang, nyawanya tidak bisa diselamatkan.
Pemicu Pertengkaran dan Perjalanan Kasus
Kisah Brajbala ini menambah panjang daftar kasus kekerasan dalam rumah tangga di India. Awalnya, pertengkaran hanya dipicu oleh makanan yang dianggap Ramu terlalu asin. Dari urusan dapur, berujung pada kekerasan fisik yang berakibat fatal.
Setelah kejadian, Ramu sempat kabur, namun berkat sigapnya warga desa, ia berhasil ditangkap dan langsung diserahkan kepada pihak kepolisian. Saat ini, jenazah Brajbala sudah diautopsi untuk memastikan penyebab kematian. Sementara itu, Ramu sedang menjalani proses hukum.
Kepala Kepolisian Tambahan Kasganj, Rajesh Bharti, mengonfirmasi bahwa kasus ini sedang dalam penyelidikan. "Sebuah kasus telah kami buka terhadap Ramu, dan penyelidikan sedang berlangsung," ujarnya.
Bukan Kejadian Pertama
Yang lebih miris, pihak keluarga Brajbala mengungkap bahwa ini bukan kali pertama Brajbala mengalami kekerasan. Mereka mengatakan bahwa Ramu memang sering bertindak kasar. Selain itu, ada dugaan perselingkuhan dan tuntutan mas kawin yang terus-menerus menjadi sumber pertengkaran sejak pernikahan mereka lima tahun lalu.
Dalam laporannya ke polisi, keluarga korban bahkan menyebutkan tiga nama lain yang diduga ikut terlibat dalam kekerasan dan pelecehan yang dialami Brajbala.
Kisah pilu Brajbala menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya melawan kekerasan dalam rumah tangga. Butuh lebih dari sekadar penegakan hukum yang ketat. Kita juga harus mengubah norma sosial yang masih membiarkan praktik kekerasan terhadap perempuan terjadi.
Kekerasan terhadap perempuan bukan lagi masalah personal, melainkan isu sosial yang harus diatasi bersama. Kekerasan domestik bisa terjadi pada siapa saja, dan Brajbala adalah salah satu dari jutaan korban di seluruh dunia.