DPR Amerika Serikat Desak Transparansi Dokumen Epstein, Trump Terpojok di Tengah Tekanan Basis Konservatif
JAKARTA, GENVOICE.ID - Ketua DPR Amerika Serikat, Mike Johnson, menyerukan agar Departemen Kehakiman segera mempublikasikan seluruh dokumen yang berkaitan dengan Jeffrey Epstein. Desakan ini muncul di tengah meningkatnya kritik dari pendukung konservatif yang merasa dikecewakan oleh Presiden Donald Trump dan Jaksa Agung Pam Bondi terkait penanganan kasus Epstein.
Johnson menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah wawancara dengan podcaster sayap kanan, di mana ia menegaskan pentingnya transparansi. "Kita harus membiarkan publik mengetahui fakta-fakta yang ada. Terlalu banyak spekulasi dan pertanyaan yang tak terjawab," ujarnya.
Langkah Johnson dianggap sebagai sinyal retaknya hubungan antara DPR yang dikuasai Partai Republik dan Trump, terutama dalam isu yang sangat sensitif bagi basis pendukungnya. Trump, yang selama ini mendapat dukungan kuat dari kelompok konservatif garis keras, mulai menghadapi tekanan besar karena belum membuka daftar klien Epstein seperti yang dijanjikannya semasa kampanye.
Isu ini semakin panas setelah komentar Bondi yang menyebut bahwa daftar klien Epstein "ada di mejanya" dan tengah dikaji. Johnson pun menegaskan bahwa Bondi perlu menjelaskan langsung kepada publik mengenai pernyataan tersebut.
Sementara itu, Trump mencoba meredam kegelisahan dengan menyebut bahwa fokus utama saat ini adalah mengembalikan kejayaan Amerika, bukan membahas Epstein. Namun, dalam pernyataannya kepada media, ia juga membuka kemungkinan bahwa beberapa dokumen bisa dirilis jika Bondi menganggapnya layak.
Di sisi lain, upaya Demokrat untuk menambahkan pasal yang mewajibkan pembukaan dokumen Epstein dalam sebuah rancangan undang-undang berhasil digagalkan oleh mayoritas Republik di DPR. Meski demikian, fraksi Demokrat di Komite Kehakiman tetap mendorong diadakannya sidang untuk memanggil Bondi, pejabat FBI, serta sejumlah tokoh yang terlibat dalam kasus Epstein.
Bondi sendiri memilih bungkam ketika ditanya soal hal ini dalam konferensi pers mengenai fentanyl. "Hari ini kita fokus pada krisis overdosis, bukan topik lain," ucapnya singkat.
Ketegangan di internal Partai Republik ini menunjukkan bahwa kasus Epstein masih menjadi isu panas yang bisa menggoyahkan kestabilan politik di Washington, apalagi di tengah tahun politik yang sarat ketegangan menjelang pemilu mendatang.