Donald Trump Umumkan 'Kesepakatan Besar' dengan Presiden Prabowo, RI Dapat Penundaan Tarif AS!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump secara mengejutkan mengumumkan tercapainya sebuah "kesepakatan besar" dengan Indonesia. Melalui unggahan di akun media sosial pribadinya di Truth Social pada Selasa malam pukul 08.50 waktu setempat, Trump menyatakan bahwa kesepakatan tersebut hasil dari dialog langsung dengan Presiden RI Prabowo Subianto.
"Kesepakatan besar, untuk semua pihak, baru saja tercapai dengan Indonesia. Saya bernegosiasi langsung dengan Presiden mereka yang sangat dihormati. Rincian akan segera menyusul!!!" tulis Trump dalam pernyataan publiknya.
Pernyataan itu langsung memicu spekulasi luas mengenai bentuk dan isi kerja sama yang dimaksud. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih maupun dari pihak pemerintah Indonesia, termasuk Istana Kepresidenan dan Kementerian Luar Negeri RI.
Menariknya, unggahan Trump itu kemudian turut dibagikan melalui fitur Instagram Story akun resmi Sekretariat Kabinet RI, memperkuat sinyal bahwa kesepakatan tersebut mendapat perhatian serius dari kedua negara.
Sinyal kesepakatan ini datang hanya berselang dua hari setelah Trump mengeluarkan pernyataan keras terhadap 11 negara anggota BRICS, termasuk Indonesia yang tengah menjajaki keanggotaan lebih dalam dengan blok ekonomi tersebut.
Pada Minggu (6/7), Trump berjanji akan mengenakan tarif tambahan sebesar 10 persen terhadap negara-negara yang berpihak pada kebijakan anti-Amerika dari BRICS.
"Negara mana pun yang berpihak pada kebijakan anti-Amerika dari BRICS akan dikenakan TARIF tambahan sebesar 10%. Tidak akan ada pengecualian," tegas Trump dalam pernyataan sebelumnya.
Sebagai respons cepat, pemerintah Indonesia langsung mengutus Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto bersama tim negosiasi tarif untuk terbang ke Washington, D.C. pada Selasa (8/7). Kunjungan ini dilakukan di tengah jadwal padat Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya menghadiri KTT BRICS di Brasil pada 6-7 Juli 2025.
Dalam keterangan pers yang disampaikan di Brussel, Belgia, pada Sabtu (12/7), Airlangga memastikan bahwa AS menunda rencana penerapan tarif impor sebesar 32 persen terhadap sejumlah produk asal Indonesia. Penundaan ini merupakan hasil pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan AS dan Kepala Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) pada 9 Juli lalu.
"Penundaan diberlakukan untuk memberi waktu tiga pekan bagi penyelesaian perundingan lanjutan," kata Airlangga.
Selain tarif, perundingan juga membahas sejumlah isu strategis seperti hambatan non-tarif, kerja sama ekonomi digital, hingga kemitraan mineral kritis seperti nikel dan tembaga - dua komoditas unggulan yang menjadi perhatian besar Amerika Serikat dalam rantai pasok energi bersih global.
Sumber diplomatik menyebut bahwa pemerintahan Trump, yang tengah kembali aktif di panggung politik global, ingin memperkuat kemitraan dengan Indonesia dalam sektor energi dan logam strategis. Hal ini dinilai sebagai bagian dari strategi geopolitik AS untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan mineral dari Tiongkok dan negara-negara BRICS lainnya.
Jika kesepakatan ini berhasil difinalisasi dalam waktu dekat, maka bisa menjadi tonggak penting dalam hubungan Indonesia-AS, sekaligus membawa dampak signifikan bagi perekonomian nasional.