Tips Pakai Paylater Biar Nggak Galbay! Cara Cerdas Kelola Utang Digital Supaya Tetap Aman
JAKARTA, GENVOICE.ID - Slogan beli sekarang bayar nanti bener-bener sudah jadi makanan sehari-hari di era serba digital ini, Gen. Rasanya hampir semua aplikasi mulai dari tempat belanja online, layanan pesan antar makanan, sampai aplikasi booking tiket pesawat punya fitur paylater yang menggoda banget buat diklik.
Fenomena gaya hidup modern ini emang menawarkan kemudahan yang luar biasa, apalagi buat kita yang pengen barang impian segera ada di tangan tanpa harus nunggu tabungan penuh. Tapi, di balik kemudahan yang cuma butuh beberapa kali klik itu, ada lubang hitam bernama tumpukan utang yang siap menerkam kalau kita nggak punya kendali diri. Banyak anak muda yang awalnya merasa aman-aman saja, eh tiba-tiba pusing tujuh keliling pas liat tagihan bulanan membengkak karena bunga dan denda yang nggak disadari sebelumnya.
Makanya, penting banget buat kita paham gimana caranya manfaatin teknologi keuangan ini tanpa harus mengorbankan masa depan finansial dan kesehatan mental gara-gara diteror penagih utang, Gen.
Seorang perencana keuangan ternama, Rista Zwestika, ngasih wanti-wanti kalau main paylater itu wajib banget pakai logika, bukan cuma nafsu belanja. Kunci utamanya adalah kamu harus bisa bedain mana utang produktif dan mana utang konsumtif. Sederhananya, utang produktif itu kalau barang yang kamu beli pakai paylater bisa menghasilkan duit lagi.
"Tidak ada pemasukan yang dihasilkan dari utang konsumtif tersebut. Flexing tidak serta-merta membuat seseorang bertambah income-nya," jelasnya.
Contoh gampangnya begini, Gen. Kalau kamu cicil HP mahal tapi HP itu dipakai buat kerja jadi konten kreator atau video editor yang hasilnya bisa dapet Rp5 juta sebulan, sementara cicilannya cuma Rp3 juta, berarti itu utang produktif karena ada keuntungan Rp2 juta di situ. Tapi kalau cuma buat gaya-gayaan biar kelihatan keren di medsos tanpa ada pemasukan tambahan, itu namanya jebakan utang konsumtif.
Rista juga nekanin kalau sebenarnya nggak ada yang ngelarang kamu buat berutang, asal syaratnya jelas: produktif atau emang dalam kondisi darurat yang mendesak banget. Tapi, kebanyakan orang lari ke paylater karena mereka nggak punya dana darurat alias tabungan cadangan. Padahal dana darurat itu fungsinya sebagai pelindung pas ada hal tak terduga terjadi.
Aturan main paling saklek sebelum kamu aktifin paylater adalah: total cicilan nggak boleh lebih dari 30 persen dari gaji bulanan kamu. Kalau sudah lewat batas itu, risiko gagal bayar bakal sangat tinggi. Kamu juga harus mikirin skenario terburuknya.
"Kalau gagal bayar, apakah ada aset yang bisa dijual? Ini harus dipikirkan sejak awal," katanya.
Salah satu mantan pengguna paylater, Syuwaikar Al Abqary, sempat berbagi pengalamannya. Dia dulu pernah cicil HP buat kebutuhan di pondok dengan cicilan murah per bulan. Walaupun dia disiplin bayar dan nggak pernah telat, akhirnya dia mutusin buat berhenti total pakai paylater. Alasannya simpel banget, dia nggak mau merasa terikat dan nggak tenang punya utang yang selalu ngebayang-bayangi waktunya.
Ingat ya Gen, utang yang nggak terkelola bukan cuma ngerusak dompet, tapi juga ngerusak mental. Rasa cemas ditagih atau ketakutan data pribadi disebar (kalau pakai pinjol ilegal) itu harganya mahal banget dibanding barang yang kamu beli. Jadi, kalau emang belum siap sama konsekuensi dikejar penagih, mendingan simpan dulu keinginan belanjanya dan mulai nabung dana darurat.
Kira-kira menurut Gen, lebih baik sabar nabung dulu sampai uangnya cukup atau sikat pakai paylater asal cicilannya nggak sampai 30 persen dari gaji?