Kamboja Kecam SEA Games! Thailand Dinilai Tak Selevel dengan Edisi 2023
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kamboja melontarkan kritik keras terhadap penyelenggaraan SEA Games ke-33 yang digelar di Thailand.
Sekretaris Jenderal Komite Olimpiade Nasional Kamboja (NOCC), Vath Chamroeun, menilai kualitas organisasi ajang olahraga terbesar di Asia Tenggara tersebut jauh di bawah standar SEA Games 2023 yang sebelumnya digelar di Kamboja.
Dalam pernyataannya yang dikutip media Thailand, Thairath, Chamroeun menyebut banyak kekurangan serius, mulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan upacara pembukaan. Ia menilai penyelenggaraan SEA Games Thailand tidak mencerminkan skala dan prestise ajang tersebut.
"Untuk sebuah ajang sebesar SEA Games, hampir tidak ada gladi bersih yang layak dan anggarannya tidak memadai. Para pejabat bahkan harus berulang kali menyampaikan permintaan maaf," ujar Chamroeun, seperti dilansir VN Express, Sabtu (13/12/2025).
"Siapa pun yang menonton upacara pembukaan bisa melihat dengan jelas bahwa acara itu tidak bisa dibandingkan dengan SEA Games 2023 di Kamboja," tambahnya.
Kritik ini muncul di tengah keputusan drastis Kamboja yang pada 10 Desember memerintahkan seluruh kontingennya meninggalkan Thailand, hanya sehari setelah menghadiri upacara pembukaan SEA Games pada 9 Desember. Pada hari yang sama, Chamroeun mengirimkan surat resmi penarikan diri kepada panitia penyelenggara.
Dalam surat tersebut, Kamboja menyebut alasan keamanan serta permintaan dari keluarga atlet agar para peserta "segera kembali ke rumah." Menurut Chamroeun, keputusan tersebut juga dipengaruhi oleh berbagai persoalan logistik yang dihadapi tuan rumah.
Thailand disebut baru memulai perencanaan upacara pembukaan pada Maret 2025. Namun perubahan pemerintahan, banjir besar di sejumlah wilayah, serta meningkatnya konflik perbatasan memaksa panitia melakukan revisi besar-besaran. Akibatnya, waktu persiapan efektif hanya sekitar satu bulan.
Kondisi tersebut, kata Chamroeun, berdampak langsung pada kualitas upacara pembukaan yang ia sebut diwarnai banyak kesalahan teknis dan penampilan yang lemah. Sejumlah masalah dilaporkan terjadi, mulai dari kesalahan pengibaran bendera, kualitas pertunjukan musik yang dinilai buruk, hingga keterlambatan sekitar 30 menit akibat kedatangan tamu VIP. Beberapa delegasi negara peserta juga mengeluhkan kualitas konsumsi yang disediakan untuk atlet.
Di media sosial, warganet turut menyoroti momen kontroversial ketika atlet peraih medali terlihat memberi hormat ke layar LED alih-alih bendera nasional sungguhan.
Tak hanya soal teknis, Chamroeun juga melontarkan tuduhan serius terhadap pemerintah dan militer Thailand. Ia menilai meningkatnya ketegangan perbatasan selama SEA Games berlangsung bertentangan dengan semangat Olimpiade dan nilai sportivitas. Ia menuduh Thailand sebagai pihak yang memicu kembali konflik, sehingga situasi tersebut dinilai tidak sejalan dengan prinsip gerakan Olimpiade internasional.
Meski demikian, Chamroeun tetap mengakui upaya panitia SEA Games Thailand dan Komite Olimpiade Nasional Thailand dalam hal protokol dan keramahan. Namun, menurutnya, hal itu tidak bisa dipisahkan dari konteks geopolitik yang lebih luas.
"Tuan rumah olahraga menyambut kami dengan baik, tetapi mereka yang berkuasa di negara ini menyerang rumah kami, membakar rumah kami, dan membombardir wilayah kami. Bagaimana kami bisa terus bertanding dalam situasi seperti itu?" kata Chamroeun.
Dengan keputusan penarikan diri tersebut, Kamboja tercatat sebagai negara pertama dalam sejarah SEA Games yang telah mengikuti upacara pembukaan namun mundur di tengah kompetisi. Langkah ini disebut mendapat pengertian dan dukungan dari sejumlah negara ASEAN serta atlet internasional yang mengkhawatirkan keselamatan kontingen Kamboja.
Hubungan Thailand dan Kamboja sendiri tengah memanas sejak Juli 2025 akibat sengketa perbatasan. Situasi memburuk pada 7 Desember setelah dilaporkan terjadi baku tembak antara pasukan kedua negara di wilayah perbatasan timur laut.