Sadis! Remaja Disabilitas Meninggal Usai Dikeroyok Massa di Karawang, Keluarga Tuntut Keadilan
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kasus kematian Rido Pulanggar, remaja 15 tahun penyandang disabilitas tunagrahita asal Purwakarta, mengguncang publik dan memunculkan kembali sorotan soal keamanan bagi kelompok rentan.
Rido meninggal dunia setelah menjadi korban pengeroyokan di Karawang dan sempat menjalani perawatan intensif di dua rumah sakit.
Insiden bermula ketika Rido tersesat dan masuk ke teras rumah warga di Desa Tegalwaru, Cilamaya Wetan. Kondisi Rido yang memiliki gangguan mental membuatnya kesulitan berkomunikasi.
Namun warga yang tak memahami situasinya langsung menuduhnya sebagai pencuri. Padahal, menurut bibinya, Yana, tak pernah ada kejadian pencurian sebelumnya. Rido memang kerap pergi dari rumah selama beberapa hari, tetapi warga Purwakarta biasanya membantu dan langsung menghubungi keluarga untuk menjemputnya.
Situasi berubah tragis ketika Rido diduga menjadi sasaran amuk massa sebelum akhirnya diserahkan ke aparat desa. Keluarga menerima kabar simpang siur mengenai pengeroyokan itu, namun luka berat di kepala dan tubuh Rido memperlihatkan betapa kerasnya kekerasan yang dialaminya. Ia dibawa ke RSUD Karawang pada Rabu dini hari dalam kondisi tidak sadarkan diri dan menggunakan alat bantu napas. Kondisinya terus memburuk hingga dipindahkan ke RSUD Bayu Asih Purwakarta keesokan harinya.
Setelah lebih dari sepekan kritis, Rido menghembuskan napas terakhir pada Kamis siang. Jenazahnya kemudian dibawa ke RS Sartika Asih, Bandung, untuk menjalani autopsi sebagai bagian dari proses hukum, namun keluarga mengaku belum menerima informasi mengenai hasil pemeriksaan tersebut. Mereka juga mendengar kabar bahwa sejumlah orang telah diamankan, tetapi belum ada kepastian mengenai status mereka dalam proses penyidikan.
Pemakaman Rido berlangsung penuh duka pada Jumat pagi di TPU Bongas Kidul, Purwakarta. Tangis keluarga pecah saat jenazah diturunkan ke liang lahat. Mereka merasa kehilangan sekaligus kecewa karena belum melihat adanya kepastian hukum. Bagi keluarga, Rido adalah anak berkebutuhan khusus yang seharusnya mendapatkan perlindungan, bukan malah menjadi korban kekerasan.
Polisi menyebut kasus ini telah masuk tahap penyidikan dan lima saksi sudah diperiksa untuk mengungkap pelaku pengeroyokan. Pihak kepolisian juga telah memeriksa keluarga serta mengumpulkan bukti. Mereka berjanji menuntaskan kasus ini dan mengimbau masyarakat memberikan informasi apa pun yang bisa membantu proses hukum. Keluarga sendiri sudah melaporkan kejadian tersebut ke Polres Karawang pada 11 November dan kini menunggu perkembangan lebih lanjut.
Tragedi yang menimpa Rido menjadi pengingat bahwa penyandang disabilitas masih sering menghadapi risiko diskriminasi dan kekerasan, terutama ketika berada di luar pengawasan keluarga. Keluarga kini berharap pelaku kekerasan segera terungkap dan Rido mendapatkan keadilan yang layak ia terima.