Antiklimaks, Janice Tjen Kandas di Final WTA 250 Sao Paulo

Genvoice.id | 15 Sep 2025

JAKARTA, Genvoice.id - Perjalanan mengejutkan Janice Tjen di turnamen WTA 250 Sao Paulo harus jadi runner-up setelah dikalahkan oleh Tiantsoa Rakotomanga Rajaonah di final dengan skor 6-3, 6-4 pada Minggu, 14 September 2025. Meski begitu, performa Tjen selama turnamen patut diacungi jempol sebagai tonggak sejarah bagi tenis putri Indonesia.

Pertandingan final berlangsung selama 1 jam 26 menit. Rajaonah tampil lebih konsisten di momen-momen penting, seperti pada game break dan servis match.

Tjen kesulitan menjaga konsistensi pada servis keduanya. Rakotomanga Rajaonah memanfaatkan celah tersebut dengan agresif, mematahkan servis Tjen pada momen-momen krusial. Set pertama berakhir 6-3 untuk lawan, dan meski Tjen sempat bangkit di set kedua, permainan solid lawan menutup pertandingan 6-4.

Tjen berhasil memenangkan sekitar 62.9% dari poin-poin servisnya ketika servis pertama masuk. Namun di servis kedua, efektivitasnya menurun tajam, hanya sekitar 26.1% dari poin servis kedua yang dimenangkannya. Untuk Rajaonah, meskipun servis pertama masuk pada persentase yang sedikit lebih tinggi, poin servis keduanya juga jauh lebih baik proporsinya dibanding Tjen.

Selain servis kedua, aspek mental dalam menghadapi poin-poin penting juga masih menjadi pekerjaan rumah. Pengalaman tampil di final WTA pertama membuat Tjen terlihat sedikit tegang. Sebaliknya, Rajaonah tampil lebih tenang dan efisien dalam mengatur ritme pertandingan.

Walau kalah, pencapaian Tjen tetap monumental. Ia tercatat sebagai petenis Indonesia pertama yang menembus final WTA sejak Angelique Widjaja pada 2002. Hasil ini juga mendekatkan Tjen ke jajaran 100 besar dunia, sesuatu yang bisa menjadi awal karier lebih besar di level internasional.

Tjen tampil impresif sepanjang turnamen ini. Petenis 23 tahun itu sukses menyingkirkan Alexandra Eala, pemain unggulan nomor 3 dalam turnamen ini, di perempat final dan Francesca Jones, pemain unggulan nomor 6 dalam turnamen ini, di semifinal. Torehan ini mengundang sorotan karena jarang ada petenis Indonesia mampu melaju sejauh itu di level WTA.

Kendati final ini berakhir harus berakhir antiklimaks, banyak hal positif yang bisa dipetik. Tjen membuktikan diri bukan sekadar "kejutan sementara", melainkan calon petenis yang siap bersaing di papan atas. Jika ia mampu meningkatkan ketahanan mental dan konsistensi teknis, peluangnya untuk meraih gelar WTA di masa depan terbuka lebar.