BEI Rilis Daftar Emiten Terbaru Kategori HSC per Juli 2026, Ada Saham Grup Konglomerasi Besar

Genvoice.id | 15 Jul 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID -Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi merilis daftar terbaru dari 33 emiten yang masuk ke dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC). Penetapan status baru ini menyusul adanya perubahan metodologi penilaian kepemilikan saham yang lebih diperketat oleh pihak bursa.

Secara total, terdapat 37 perusahaan terbuka yang didefinisikan memiliki konsentrasi kepemilikan saham sangat tinggi pada pihak-pihak tertentu, di mana empat emiten lainnya saat ini masih dalam proses finalisasi untuk segera diumumkan.

Masuknya barisan saham tersebut ke dalam daftar pemantauan khusus menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar modal untuk lebih cermat dalam menganalisis likuiditas transaksi harian serta pergerakan volatilitas harga instrumen investasi tersebut di papan perdagangan.

Dari 33 daftar korporasi yang telah dipublikasikan oleh pihak otoritas, enam di antaranya diketahui terafiliasi langsung dengan gurita bisnis konglomerasi papan atas di Indonesia, mulai dari sektor pertambangan, kesehatan, hingga teknologi digital. Berikut adalah rincian lengkap emiten baru yang masuk ke dalam pembaruan kategori HSC per 14 Juli 2026:

Daftar 33 Emiten Baru yang Menyandang Kategori HSC

  • PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII)

  • PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL)

  • PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE)

  • PT Golden Flower Tbk (POLU)

  • PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI)

  • PT MD Entertainment Tbk (FILM)

  • PT Hoffmen Cleanindo Tbk (KING)

  • PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII)

  • PT Hotel Fitra International Tbk (FITT)

  • PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI)

  • PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI)

  • PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI)

  • PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT)

  • PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR)

  • PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY)

  • PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO)

  • PT Global Digital Niaga Tbk (BELI)

  • PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS)

  • PT Multipolar Technology Tbk (MLPT)

  • PT Siantar Top Tbk (STTP)

  • PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN)

  • PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI)

  • PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO)

  • PT FAP Agri Tbk (FAPA)

  • PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE)

  • PT Soho Global Health Tbk (SOHO)

  • PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN)

  • PT Bank Permata Tbk (BNLI)

  • PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ)

  • PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA)

  • PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET)

  • PT Bayan Resources Tbk (BYAN)

  • PT DCI Indonesia Tbk (DCII)

Profil 6 Saham Kategori HSC yang Berasal dari Grup Konglomerasi

  • PT Bayan Resources Tbk (BYAN): Merupakan emiten pertambangan batu bara terintegrasi skala besar yang didirikan oleh konglomerat Low Tuck Kwong.

  • PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) & PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS): Dua perusahaan yang bernaung di bawah bendera Sinar Mas Group milik keluarga Eka Tjipta Widjaja. SMAR berfokus di sektor kelapa sawit, sedangkan GEMS bergerak di bisnis batu bara dan perdagangan logistik.

  • PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) & PT Multipolar Technology Tbk (MLPT): Perusahaan terbuka yang dikendalikan oleh Lippo Group milik keluarga Mochtar Riady. SILO mengelola jaringan rumah sakit swasta nasional, sedangkan MLPT menyediakan jasa integrasi teknologi informasi (IT).

  • PT Global Digital Niaga Tbk (BELI): Entitas pengelola platform e-commerce Blibli yang terafiliasi dengan Grup Djarum di bawah kendali keluarga Hartono (Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono).

Daftar 14 Emiten yang Sudah Masuk Kategori HSC Sejak April 2026

Sebelum gelombang pengumuman terbaru ini dirilis, pihak otoritas bursa sebenarnya telah menetapkan 15 emiten awal ke dalam kategori tata kelola kepemilikan terpusat ini sejak 2 April 2026. Namun, pada perdagangan 2 Juli 2026, satu emiten yakni PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) dinyatakan berhasil keluar dari kategori pemantauan tersebut. Dengan demikian, berikut adalah 14 nama emiten terdahulu yang masih menyandang status HSC:

  • PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS)

  • PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK)

  • PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO)

  • PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV)

  • PT Ifishdeco Tbk (IFSH)

  • PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)

  • PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)

  • PT Samator Indo Gas Tbk (AGII)

  • PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA)

  • PT Mahkota Group Tbk (MGRO)

  • PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI)

  • PT Kota Satu Properti Tbk (SATU)

  • PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG)

  • PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM)

Keberadaan saham-saham grup besar di dalam daftar pengawasan khusus ini menegaskan bahwa kepemilikan publik atas saham yang beredar (free float) cenderung minim akibat struktur pemegang saham utama yang sangat dominan. Kondisi ini menuntut para pelaku pasar, khususnya investor ritel, untuk mengedepankan asas kehati-hatian dalam menyusun strategi transaksi portofolio.

Sangat direkomendasikan bagi para pemodal untuk memantau pergerakan harga saham-saham HSC ini secara teknikal serta fundamental yang mendalam guna mengantisipasi risiko likuiditas rendah yang kerap membayangi emiten dengan konsentrasi kepemilikan padat.