8 Negara dengan Budaya Kerja Paling Padat, Rata-Rata Kerja Lebih dari 47 Jam

Genvoice.id | 15 Jul 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Di banyak negara, bekerja sekitar 40 jam per minggu masih dianggap sebagai standar yang ideal untuk menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Namun, kondisi tersebut tidak berlaku di semua negara karena ada beberapa wilayah yang memiliki rata-rata jam kerja jauh lebih panjang.

Faktor seperti kebutuhan ekonomi, budaya kerja, dominasi sektor pertanian hingga industri berat membuat jutaan pekerja harus menghabiskan waktu lebih lama di tempat kerja. Bahkan, ada negara yang mencatat rata-rata jam kerja lebih dari 54 jam setiap minggunya.

Berikut daftar negara dengan jam kerja terpanjang di dunia beserta faktor yang memengaruhinya.

1. Bhutan

Bhutan berada di posisi teratas dengan rata-rata jam kerja sekitar 54,4 jam per minggu. Sebagian besar masyarakat bekerja di sektor pertanian, usaha kecil, dan pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik sehingga durasi kerja menjadi lebih panjang.

Selain itu, keterbatasan infrastruktur juga membuat proses pekerjaan berjalan lebih lama. Akibatnya, banyak pekerja memiliki waktu istirahat yang lebih sedikit dibanding negara lain.

2. Uni Emirat Arab

Uni Emirat Arab mencatat rata-rata 50,9 jam kerja per minggu. Sebagai salah satu pusat bisnis internasional, negara ini memiliki aktivitas ekonomi yang berlangsung hampir tanpa henti.

Sektor konstruksi, pariwisata, keuangan, hingga perdagangan membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar dengan ritme kerja yang tinggi. Meski memiliki kebijakan libur yang cukup baik, tekanan pekerjaan tetap menjadi tantangan bagi sebagian pekerja.

3. Lesotho

Lesotho menempati posisi berikutnya dengan rata-rata 50,4 jam kerja setiap minggu. Negara di Afrika bagian selatan ini masih mengandalkan sektor manufaktur, pertanian, dan pertambangan sebagai penggerak ekonomi.

Terbatasnya lapangan pekerjaan membuat banyak orang memilih bekerja lebih lama demi memperoleh penghasilan yang cukup.

4. Kongo

Di Kongo, rata-rata jam kerja mencapai 48,6 jam per minggu. Banyak masyarakat menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan pertambangan yang membutuhkan tenaga besar.

Jam kerja panjang menjadi konsekuensi dari kondisi ekonomi yang masih berkembang. Namun, pola kerja tersebut juga meningkatkan risiko kelelahan dan menurunnya kualitas hidup pekerja.

5. Qatar

Qatar memiliki rata-rata jam kerja sekitar 48 jam per minggu. Negara ini terus berkembang melalui industri energi, pembangunan infrastruktur, dan berbagai proyek berskala besar.

Banyak pekerja, khususnya pekerja migran, menjalani jam kerja yang panjang sesuai kebutuhan proyek. Meski menawarkan pendapatan yang kompetitif, ritme kerja yang padat tetap menjadi tantangan tersendiri.

6. Liberia

Liberia mencatat rata-rata 47,7 jam kerja per minggu. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi penopang utama ekonomi negara tersebut.

Karena peluang kerja yang masih terbatas, banyak pekerja rela menghabiskan waktu lebih lama untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

7. Mauritania

Mauritania memiliki rata-rata jam kerja sekitar 47,6 jam per minggu. Industri pertambangan, peternakan, dan perikanan menjadi sektor utama yang menyerap banyak tenaga kerja.

Pekerjaan di sektor-sektor tersebut umumnya membutuhkan waktu operasional yang panjang sehingga jam kerja masyarakat pun ikut meningkat.

8. Lebanon

Lebanon juga mencatat rata-rata 47,6 jam kerja setiap minggu. Krisis ekonomi yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir membuat banyak pekerja harus menambah jam kerja agar tetap memperoleh penghasilan yang memadai.

Kondisi tersebut membuat keseimbangan antara pekerjaan, kesehatan, dan kehidupan pribadi menjadi tantangan yang tidak mudah bagi masyarakat setempat.

Mengapa Ada Negara dengan Jam Kerja Sangat Panjang?

Perbedaan jam kerja di setiap negara dipengaruhi oleh banyak faktor. Selain budaya kerja, kondisi ekonomi dan struktur industri juga berperan besar dalam menentukan lamanya waktu bekerja.

Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain:

  • Dominasi sektor pertanian, pertambangan, atau manufaktur.
  • Tingginya kebutuhan tenaga kerja pada proyek pembangunan.
  • Terbatasnya kesempatan kerja formal.
  • Tuntutan ekonomi masyarakat.
  • Budaya kerja yang mengutamakan produktivitas tinggi.

Meski jam kerja yang panjang dapat meningkatkan produktivitas dalam jangka pendek, berbagai penelitian menunjukkan bahwa durasi kerja berlebihan juga berisiko memicu kelelahan, stres, hingga menurunkan kualitas hidup apabila tidak diimbangi dengan waktu istirahat yang cukup.