Volkswagen Tutup Pabrik Besar di Tiongkok Setelah 17 Tahun Beroperasi, Pertanda Perubahan Arah Strategi?
JAKARTA, GENVOICE.ID - Raksasa otomotif asal Jerman, Volkswagen (VW), secara resmi mengonfirmasi penutupan salah satu pusat perakitan terbesarnya di China yang berlokasi di Kota Nanjing.
Dilansir dari Antara, langkah drastis ini diambil di tengah ketatnya persaingan pasar otomotif, khususnya dengan meningkatnya tekanan di segmen kendaraan listrik.
Pabrik Nanjing yang dibangun bersama mitra lokal VW, SAIC Motor Corporation, telah beroperasi selama 17 tahun dan memiliki kapasitas produksi hingga 360.000 unit kendaraan per tahun. Penutupan ini menandai momen penting dalam strategi VW untuk menyesuaikan operasional mereka di pasar otomotif terbesar dunia, yang kini tengah mengalami pergeseran tren dari kendaraan berbahan bakar fosil ke mobil listrik (EV).
Kabar penutupan pertama kali dilaporkan oleh sebuah surat kabar Jerman dan segera dikonfirmasi oleh Volkswagen. Meski demikian, perusahaan belum mengungkapkan secara spesifik kapan penutupan akan dilakukan. Langkah ini terbilang mengejutkan, mengingat sebelumnya VW sempat mencapai kesepakatan dengan serikat pekerja Jerman IG Metall pada 2023 untuk mempertahankan sejumlah pabrik domestik.
Isu soal masa depan pabrik Nanjing sendiri sebenarnya telah muncul sejak tahun lalu. Pada September 2024, muncul spekulasi bahwa fasilitas ini akan ditutup pada 2025 akibat menurunnya permintaan kendaraan berbahan bakar bensin di pasar domestik China. Spekulasi itu kini terbukti bukan isapan jempol.
Volkswagen saat ini mempekerjakan lebih dari 90.000 orang di China dan mengoperasikan 39 pabrik bersama sejumlah mitra lokal. Namun, tingkat utilisasi banyak fasilitas tersebut anjlok pasca-pandemi COVID-19. Data terbaru menunjukkan bahwa utilisasi pabrik hasil kerja sama dengan SAIC hanya berada di angka 58 persen dari target produksi 2,1 juta unit, sebuah penurunan signifikan yang turut memicu keputusan rasionalisasi.
Dalam pernyataan resminya, VW menyatakan bahwa sejumlah pabriknya bersama SAIC telah dialihfungsikan untuk mendukung produksi kendaraan listrik. Namun, belum ada kejelasan apakah pabrik di Nanjing akan turut masuk dalam program konversi tersebut atau ditutup sepenuhnya.
Penutupan pabrik ini menjadi sinyal kuat bahwa Volkswagen tengah menyusun ulang strategi produksinya, merespons ketatnya persaingan dari produsen kendaraan listrik lokal seperti BYD dan Nio, serta perubahan pola konsumsi masyarakat China. Di sisi lain, langkah ini juga mencerminkan tekanan global yang dihadapi perusahaan otomotif besar untuk beradaptasi dengan era elektrifikasi dan efisiensi produksi.
Dengan langkah ini, Volkswagen tampaknya siap mengorbankan warisan lama demi memastikan daya saing di masa depan otomotif global.