Jokowi Duga Ada Agenda Politik di Balik Isu Ijazah Palsu dan Wacana Pemakzulan Gibran
JAKARTA, GENVOICE.ID - Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, menyatakan kecurigaannya atas maraknya isu yang menyoroti dugaan ijazah palsu serta wacana pemakzulan terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Menurutnya, kedua isu tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari strategi politik yang lebih besar.
Dalam keterangannya kepada awak media di kediaman pribadinya di kawasan Sumber, Banjarsari, Solo, pada Senin (14/6), Jokowi menyebutkan bahwa ia mencium adanya agenda politik besar yang tengah dimainkan oleh pihak tertentu.
"Saya merasa, ini kelihatan seperti agenda besar politik. Di balik isu ijazah palsu, juga pemakzulan, ada sesuatu yang sedang digerakkan," ujarnya seperti dikutip dariDetik, Selasa (15/7).
Jokowi menduga bahwa upaya ini bertujuan untuk merusak reputasi politik dirinya, termasuk melemahkan posisi politik sang putra sulung, Gibran, yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden RI.
"Perasaan politik saya mengatakan ini diarahkan untuk menurunkan reputasi. Untuk men-downgrade," kata Jokowi.
Isu dugaan ijazah palsu yang menyeret nama Gibran serta wacana pemakzulan yang mulai ramai dibahas, menurutnya, merupakan bagian dari satu paket kampanye politik yang lebih luas.
"Termasuk juga soal isu pemakzulan Mas Wapres. Saya kira ini bukan hal yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari agenda besar," tegasnya.
Kendati demikian, Jokowi menegaskan bahwa dirinya memilih untuk tetap tenang menghadapi manuver politik tersebut. Ia tidak ingin terseret dalam pusaran emosi.
"Buat saya, ya biasa saja. Santai saja," pungkasnya dengan nada kalem.
Isu mengenai keabsahan ijazah Gibran dan wacana pemakzulan belakangan memang menjadi perbincangan hangat di berbagai lini, termasuk media sosial. Sejumlah pihak menyebut perlu ada transparansi dan investigasi lebih lanjut, sementara kelompok relawan pendukung Jokowi dan Gibran justru menilai isu ini sarat dengan muatan politis dan pembunuhan karakter menjelang tahun politik yang memanas.