nam Polisi Jadi Tersangka Kasus Matel Tewas, Tapi Justru Dibanjiri Dukungan Netizen: "Pahlawan Masyarakat"
JAKARTA, GENVOICE.ID - Penetapan enam anggota polisi aktif sebagai tersangka dalam kasus pengeroyokan dua mata elang (matel) hingga tewas di kawasan TMP Kalibata, Jakarta Selatan, justru memunculkan reaksi tak terduga dari publik. Alih-alih kecaman, dukungan luas dari netizen mengalir deras di media sosial.
Dukungan itu ramai terlihat di TikTok, salah satunya melalui akun @JakartaBercerita. Banyak warganet menyebut keenam polisi tersebut sebagai pahlawan masyarakat, dengan alasan keberadaan mata elang selama ini dianggap sangat meresahkan.
Dalam berbagai video yang beredar, tampak sejumlah pengendara motor mengaku kerap diberhentikan bahkan ditarik paksa oleh matel, meski kendaraan dibeli secara tunai atau cicilannya sudah lunas.
"Pahlawan kami, polisi yang enam ini," tulis akun @suryadi659, Minggu (14/12/2025).
Netizen lain, @frisky, mengungkapkan kebingungannya terhadap penegakan hukum di Indonesia. Menurutnya, masyarakat kerap menjadi korban jika diam saat dihadang matel, tetapi justru berujung masalah hukum ketika melawan.
Komentar senada juga datang dari akun @AkwiJayamotor yang menyebut mata elang berperilaku seperti begal. Sementara akun bernama Nisa meminta agar keenam polisi tersebut cukup menjalani sidang etik, lalu dikembalikan untuk bertugas sebagai anggota Polri aktif.
Sebelumnya, Polri memastikan bahwa enam anggota polisi yang terlibat dalam pengeroyokan tersebut telah resmi ditetapkan sebagai tersangka. Mereka diketahui bertugas di Satuan Pelayanan Markas Mabes Polri.
Keenamnya adalah Brigadir IAM, Bripda JLA, Bripda RGW, Bripda IAB, Bripda BN, dan Bripda AM. Mereka dijerat Pasal 170 ayat 3 KUHP tentang pengeroyokan yang mengakibatkan korban meninggal dunia.
Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, menegaskan bahwa selain proses pidana, para tersangka juga akan menjalani sidang kode etik.
Peristiwa terjadi pada Kamis (11/12/2025) sekitar pukul 15.30 WIB di depan TMP Kalibata, Pancoran. Berdasarkan keterangan polisi, dua matel menghentikan seorang pengendara sepeda motor di lokasi.
Tak lama kemudian, beberapa orang dari sebuah mobil turun dan langsung melakukan pengeroyokan terhadap kedua matel tersebut. Akibat kejadian itu, satu korban meninggal dunia, sementara satu lainnya mengalami luka-luka.
Para pelaku sempat melarikan diri, dan hingga kini polisi masih mendalami motif pengeroyokan serta kaitannya dengan pengendara motor yang sempat dihentikan korban.
Kericuhan tidak berhenti di lokasi kejadian. Pada malam harinya, situasi di sekitar TMP Kalibata kembali mencekam. Sekelompok orang diduga melakukan aksi balasan dengan membakar sejumlah warung, salah satunya warung Sate Taichan di area kuliner sekitar lokasi.
Seorang pedagang bernama Rian mengaku warungnya terbakar saat hendak mulai berjualan. Para pekerjanya pun panik dan melarikan diri.
Hingga kini, polisi masih mengumpulkan keterangan saksi dan terus menyelidiki rangkaian kejadian yang menewaskan satu orang tersebut.
Kasus ini pun menjadi sorotan luas publik, memperlihatkan benturan keras antara penegakan hukum, keadilan prosedural, dan rasa keadilan masyarakat yang selama ini merasa dirugikan oleh praktik mata elang di jalanan.