Satyanara Resmi Dibuka di Ubud 22 Oktober 2026, Punya Tiga Pameran Seni dan Tiket Mulai Rp30 Ribu

Genvoice.id | 14 Oct 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Ubud, Bali, kembali menghadirkan ruang baru bagi perkembangan seni dan budaya melalui pembukaan Satyanara pada 22 Oktober 2026. Berlokasi di kawasan Kedewatan, tempat ini menggabungkan pameran seni, residensi seniman, lokakarya, dan berbagai program publik untuk mempertemukan seniman serta masyarakat dari beragam latar belakang.

Satyanara beroperasi di bawah Yayasan Satya Djaya Raya (YSDR) dan melanjutkan komitmen tiga generasi keluarga Lyman dalam mendukung seni dan kebudayaan. Kehadirannya diharapkan menjadi ruang bagi seniman, peneliti, kolektor, komunitas lokal, hingga pengunjung untuk bertukar gagasan dan memperluas pengetahuan melalui berbagai kegiatan seni.

Fasilitas Satyanara untuk Mendukung Perkembangan Seni

Satyanara memiliki tiga galeri, amfiteater, ruang lokakarya, studio seniman, serta fasilitas residensi untuk mendukung kegiatan artistik dan penelitian. Kawasan ini juga dilengkapi kafe dan area ritel yang dapat dimanfaatkan pengunjung selama berada di lokasi.

Program Satyanara akan berlangsung sepanjang tahun dengan menghadirkan diskusi, pemutaran film, pertunjukan, pelatihan profesional, dan kegiatan pengembangan karier seniman. Berbagai program tersebut dirancang untuk membantu seniman membangun jaringan, berkolaborasi, serta membuka akses menuju pasar seni yang lebih luas.

Satyanara juga terbuka bagi pengunjung dengan beragam tingkat ketertarikan terhadap seni, mulai dari mereka yang baru mengenal seni Bali hingga seniman profesional, kolektor, dan peneliti. Selain mendukung perkembangan seni kontemporer di Bali, tempat ini ingin memperkuat hubungan antarkomunitas seni di Asia melalui proses belajar dan pertukaran budaya.

Tiga Pameran Tandai Pembukaan Satyanara

Pembukaan Satyanara akan ditandai dengan tiga pameran yang membahas warna dalam seni Indonesia, hubungan manusia dengan lanskap budaya, serta sejarah kaligrafi Tiongkok. Ketiganya menghadirkan pendekatan berbeda untuk mengeksplorasi sejarah, identitas, dan hubungan antarbudaya melalui karya seni.

Pameran pertama bertajuk Ubud Art Ground #2: Letters to Colour dikurasi oleh Hendro Wiyanto. Pameran ini terinspirasi dari buku Warna Bali, yang menelusuri penggunaan dan perkembangan warna dalam seni Indonesia, mulai dari tradisi hingga karya modern dan kontemporer.

Pameran Ubud Art Ground #2: Letters to Colour berlangsung pada 22 Oktober 2026 hingga 24 Januari 2027. Melalui tema warna, pameran ini mengajak pengunjung memahami bagaimana unsur visual berkembang dan memiliki peran dalam perjalanan seni di Indonesia.

Pameran kedua berjudul Fluid Kinship, yang dikurasi oleh Mella Jaarsma dan Yipei Lee berdasarkan penelitian pada 2024-2025. Pameran ini membahas hubungan antara sejarah, geografi, ekologi, sistem pangan, serta perpindahan manusia dalam membentuk lanskap budaya.

Fluid Kinship menghadirkan perspektif dari Iran, India, Indonesia, Inggris, Italia, dan Taiwan untuk mengeksplorasi perubahan hubungan manusia dengan lingkungan serta kebudayaan mereka. Pameran ini dijadwalkan berlangsung pada 22 Oktober 2026 hingga 30 April 2027.

Sementara itu, pameran ketiga bertajuk A Brush Between Worlds menampilkan koleksi kaligrafi Tiongkok sebagai presentasi jangka panjang. Pameran ini mencakup Four Treasures of the Study, lukisan, serta karya ukir segel dari koleksi mendiang Profesor Chou Chen.

Melalui karya-karya tersebut, A Brush Between Worlds mengeksplorasi proses pewarisan tradisi dan pengetahuan artistik antargenerasi. Pameran ini sekaligus memperkuat komitmen Satyanara dalam membangun hubungan budaya dan seni di berbagai wilayah Asia.

Perluas Ruang Berkarya bagi Komunitas Seni Bali

Satyanara mengembangkan pengalaman dari program Ubud Art Ground untuk memperluas kesempatan bagi seniman dan komunitas seni kontemporer di Bali. Fasilitas yang tersedia dirancang untuk mendukung penelitian, pengembangan karya, kolaborasi, serta pembangunan jaringan profesional.

Selain pameran, berbagai program publik akan memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk bertemu dengan seniman, bertukar gagasan, dan mengenal perspektif budaya yang berbeda. Pendekatan tersebut menempatkan seni sebagai ruang pembelajaran sekaligus sarana membangun hubungan antara masyarakat dan komunitas kreatif.

Program Satyanara ditujukan untuk berbagai kalangan, termasuk keluarga, pelajar, dan komunitas lokal. Kawasan ini juga dirancang agar dapat diakses pengguna kursi roda, sementara potongan harga atau tiket gratis akan tersedia bagi pelajar dan komunitas pada hari-hari tertentu.

Lokasi dan Harga Tiket Satyanara

Satyanara berada di kawasan perbukitan Kedewatan, Ubud, Bali, dengan pemandangan Sungai Ayung dan area persawahan di sekitarnya. Selain menawarkan ruang pameran, tempat ini menyediakan fasilitas untuk mendukung kegiatan kreatif, mulai dari pertunjukan dan diskusi di amfiteater hingga kegiatan artistik di studio dan ruang lokakarya.

Setiap galeri memiliki fokus kuratorial tersendiri dengan agenda pameran yang direncanakan berlangsung sepanjang tahun. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan dapat memperkuat perkembangan seni kontemporer di Bali sekaligus membuka ruang dialog antara seniman, masyarakat, dan institusi budaya di Asia.

Berikut informasi kunjungan Satyanara:

  • Lokasi: Kedewatan, Ubud, Bali.

  • Tanggal pembukaan: 22 Oktober 2026.

  • Jam operasional: Setiap hari, pukul 10.00-18.00 WITA.

  • Tiket warga Bali: Rp30.000.

  • Tiket warga negara Indonesia: Rp75.000.

  • Tiket pengunjung internasional: Rp120.000.

Satyanara menawarkan ruang bagi masyarakat untuk menikmati seni sekaligus memahami hubungan antara karya, sejarah, dan kebudayaan. Melalui tiga pameran pembuka dan program yang berlangsung sepanjang tahun, tempat ini berupaya memperluas kesempatan berkarya bagi seniman serta mendorong pertukaran pengetahuan lintas budaya.