Cetak Rekor, Harga Emas Tembus Rp2,5 Juta per Gram
JAKARTA, Genvoice.id - Harga emas di pasar domestik kembali mencetak rekor baru. Logam mulia keluaran PT Aneka Tambang (Antam) kini menembus level Rp2,5 juta per gram, angka tertinggi sepanjang sejarah perdagangan emas di Indonesia. Lonjakan tajam ini menjadi sorotan para pelaku pasar dan masyarakat yang menjadikan emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Berdasarkan data resmi dari laman Logam Mulia Antam, harga emas batangan tercatat naik hingga Rp29.000 per gram, dari sebelumnya Rp2,36 juta menjadi Rp2,565 juta per gram pada perdagangan Senin, 14 Oktober 2025. Kenaikan signifikan ini terjadi hampir setiap pekan sejak awal Oktober, seiring meningkatnya permintaan dan penguatan harga emas dunia.
Di pasar internasional, harga emas dunia saat ini juga mencatat kenaikan tajam dan menembus level US$2.600 per troy ounce, rekor tertinggi sejak 2020. Kondisi ini turut berimbas pada pasar domestik, di mana nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ikut memperbesar dampak kenaikan harga logam mulia tersebut.
Selain faktor global, meningkatnya permintaan di dalam negeri menjelang akhir tahun turut mendorong harga naik. Banyak masyarakat mulai berinvestasi di emas sebagai bentuk perlindungan nilai kekayaan, terutama ketika inflasi dan biaya hidup menunjukkan tren meningkat.
Rincian Harga dan Pecahan
Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada emas ukuran satu gram, tetapi juga pada seluruh pecahan. Berdasarkan data dari situs resmi Antam:
- Emas 0,5 gram dijual sekitar Rp1.230.000
- Emas 5 gram dibanderol Rp12.825.000
- Emas 10 gram mencapai Rp25.600.000
- Emas 100 gram kini menembus Rp255 juta
Kenaikan harga ini berlaku di seluruh gerai resmi Antam dan mitra penjualan seperti Pegadaian serta butik emas LM. Namun, harga beli kembali (buyback) biasanya sedikit lebih rendah dari harga jual, tergantung kondisi pasar.
Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin harga emas akan terus bergerak naik hingga melampaui Rp2,6 juta per gram dalam beberapa bulan ke depan. Namun, seperti halnya investasi lain, kehati-hatian tetap diperlukan agar masyarakat tidak terjebak dalam euforia harga tinggi tanpa strategi jangka panjang yang jelas.