Blunder dari Pemain Persib dan Persija Bikin Timnas Kembali Tersandung, Kali Ini Rizky Ridho yang Kena!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Timnas Indonesia kembali harus menelan pil pahit usai takluk dari Irak di partai kedua Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Laga yang digelar penuh tensi tinggi itu kembali menyuguhkan cerita pahit, terutama dari sisi pertahanan. Satu kesalahan fatal terjadi di menit ke-76, yang kali ini melibatkan kapten Persija Jakarta, Rizky Ridho.
Ridho yang tampil sebagai andalan di lini belakang memilih mengambil risiko besar saat mendapat tekanan dari lini depan Irak. Alih-alih melakukan backpass aman kepada Maarten Paes, Ridho justru memutuskan untuk menguasai bola lebih lama. Keputusan itu terbukti jadi bumerang. Bola berhasil direbut pemain Irak dan dalam hitungan detik, Zidane Iqbal sukses memanfaatkannya menjadi gol. Para pemain Indonesia pun gagal melakukan recovery cepat setelah Ridho kehilangan bola.
Blunder ini memperpanjang daftar kesalahan pemain dari Super League yang terjadi dalam dua laga awal. Sebelumnya, saat menghadapi Vietnam, situasi serupa juga sempat terjadi dan nyaris membuat Indonesia kehilangan poin.
Kali ini, sorotan tajam kembali mengarah pada kualitas pemain lokal yang tampil di kompetisi kasta tertinggi di Tanah Air.
Rizky Ridho jelas tak mau tinggal diam. Lewat akun Instagram pribadinya, ia menyampaikan permintaan maaf kepada para pendukung timnas atas hasil yang mengecewakan.
"Mohon maaf, kami belum bisa mewujudkan mimpi kalian semua," tulisnya. Sementara itu, Beckham Putra juga mengungkapkan perasaannya lewat media sosial. Saya tahu banyak yang kecewa dan saya pun merasakannya," ungkap pemain muda Persib Bandung itu.
Kedua pernyataan itu memperlihatkan bahwa para pemain sadar akan ekspektasi besar publik. Namun, permintaan maaf saja tentu tak cukup. Kegagalan ini semestinya menjadi momen refleksi bagi seluruh ekosistem sepak bola Indonesia, termasuk PSSI dan operator liga.
Sudah waktunya Super League melakukan pembenahan menyeluruh. Standar permainan dan kualitas persaingan harus ditingkatkan agar mampu melahirkan pemain-pemain yang siap bersaing di level tertinggi Asia. Jika target lolos ke Piala Dunia 2030 ingin benar-benar dicapai, maka tak ada pilihan lain selain melakukan upgrade besar-besaran terhadap kualitas kompetisi domestik.
Pembinaan usia dini, intensitas pertandingan, hingga mentalitas bertanding di level tinggi harus jadi fokus utama ke depan. Ini tentu tak mudah untuk federasi sepak bola Indonesia untuk berbenah diri.