Maudy Ayunda Diserbu Netizen Gara-gara Pernyataan Ini, Disebut Tone Deaf dan Nggak Napak Tanah

Genvoice.id | 14 Sep 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Maudy Ayunda kembali menjadi sorotan setelah videonya ketika membahas kelelahan menghadapi derasnya berita buruk ramai diperbincangkan di media sosial. Pernyataannya tentang mindfulness dan cara menjaga diri di tengah banjir informasi justru memicu kritik dari sejumlah netizen yang menilai sudut pandangnya kurang berpijak pada kondisi masyarakat.

Video berjudul "Mindfulness in the Age of Bad News - Maudy Ayunda" tersebut sebenarnya telah diunggah melalui kanal YouTube Maudy pada 21 Agustus 2026. Namun, pembahasannya kembali mencuat dan memunculkan perdebatan karena sebagian netizen menilai tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menjauh dari berita atau persoalan yang sedang terjadi.

Maudy Curhat Lelah Dengar Berita Buruk

Dalam video tersebut, Maudy menceritakan pengalamannya menghadapi arus informasi mengenai berbagai persoalan yang terjadi di dunia maupun Indonesia. Menurutnya, kabar buruk yang datang secara terus-menerus dapat membuat seseorang kesulitan memproses berbagai peristiwa secara emosional.

"Aku tuh berasa kayak ya udah beberapa bulan ini. Malah mungkin udah setahun terakhir ini ya kita tuh kayak dibombardir dengan banyaknya berita buruk secara internasional tapi juga mungkin khususnya berita lokal juga di sini, di Indonesia," ujar Maudy.

Maudy tidak mengatakan bahwa kepedulian terhadap berbagai persoalan harus dihentikan. Ia justru membicarakan bagaimana seseorang dapat tetap peduli terhadap keadaan sekitar tanpa membiarkan dirinya terus terbebani oleh arus informasi yang datang tanpa henti.

"Aku ngerasa kayaknya penting gitu untuk ngomongin itu khususnya kayak gimana buat kita bahkan melangkah, gimana caranya kita tetap peduli, dan juga bisa menjaga diri kita sendiri itu," lanjutnya.

Maudy kemudian menceritakan kondisi emosional yang pernah dialaminya ketika terlalu banyak mengikuti pemberitaan negatif. Ia mengaku sempat merasa tidak berdaya, menangis, hingga marah karena harus memproses banyak persoalan secara bersamaan.

"Di mana kayak ngerasa, 'ya ampun, ini bolak-balik banget' gimana aku memproses ini, karena buat aku pribadi berat banget sih dan ada kecenderungan ngerasa nggak berdaya. Terus ada masa-masa di mana jadi kayak mewek, nangis, marah," kata Maudy.

Netizen Soroti Sisi yang Dinilai Kurang Peka

Pembahasan tersebut kemudian mendapat respons beragam ketika video kembali menjadi perbincangan. Sebagian pengguna media sosial memahami keresahan Maudy mengenai dampak derasnya informasi terhadap kondisi psikologis seseorang.

Namun, kritik juga bermunculan karena sejumlah netizen menilai gagasan mengambil jarak dari berita tidak bisa diterapkan secara sama kepada semua orang. Mereka menilai ada masyarakat yang justru tidak memiliki pilihan untuk menjauh karena persoalan sosial, ekonomi, maupun kebijakan berdampak langsung terhadap kehidupan mereka.

Salah satu kritik datang dari pengguna X @pandaleezasol yang mengaku mempertimbangkan untuk berhenti mengikuti Maudy. Akun tersebut menilai pernyataan sang artis kurang menunjukkan kepekaan terhadap kondisi masyarakat yang terdampak langsung.

"aku unsubs Maudy beneran deh keknya, she's not spreading positivity anymore, she's just becoming tone deaf," tulis akun tersebut.

Pengguna itu juga menyinggung latar belakang pendidikan Maudy serta pengalamannya dalam kegiatan sosial. Menurutnya, pengalaman tersebut semestinya membuat Maudy memahami kondisi masyarakat dari perspektif kelompok yang berada di tingkat akar rumput.

"kak masa kamu nulis puluhan-ratusan esai sampe lulus di Ivy League, pernah jadi volunteer juga kan, pernah kan ngeliat kondisi grass root itu kayak gimana?" tulisnya.

Mega Platform Maudy Ikut Dipersoalkan

Kritik terhadap Maudy kemudian melebar pada posisinya sebagai figur publik dengan basis pengikut yang besar. Netizen mempertanyakan bagaimana seseorang dengan platform sebesar Maudy memilih membicarakan cara menjaga diri dari berita buruk ketika banyak masyarakat justru berhadapan langsung dengan dampak persoalan tersebut.

"justru dg mega platform dan capasity yg kamu punya kamu malah milih diam? kenapa?" sambung akun tersebut.

Respons serupa juga muncul dari pengguna X lainnya yang menilai Maudy selama ini cenderung mengambil posisi aman ketika berbicara mengenai persoalan sosial dan politik. Menurut akun tersebut, masyarakat biasa tidak selalu memiliki pilihan untuk sekadar mengambil jarak karena kehidupan mereka dapat terdampak langsung oleh kebijakan yang sedang diberitakan.

"Maudy dari dulu lebih suka main aman. Kalo ditanya kita juga capek tiap hari disuguhi berita jelek, bedanya kita ga punya pilihan selain ikut bersuara krn hidup kita sgt terdampak kebijakan2 ini," tulis akun tersebut.

Kritik lain menyoroti kemungkinan pesan dalam video Maudy dipahami sebagai ajakan untuk terlalu menjauh dari persoalan di sekitar. Seorang pengguna X bahkan menilai masalahnya bukan sekadar soal memilih untuk tidak ikut campur, melainkan bagaimana pesan tersebut dapat diterima oleh orang lain.

"Seeing comment 'You'll probably do the same if you were her'. Masalahnya doi bukan lagi minding her own business tapi bener bener ngajak yang lain untuk 'segapeduli itu,'" tulis akun tersebut.

Pendidikan Maudy Ikut Diseret

Latar belakang pendidikan Maudy juga ikut menjadi sasaran komentar dalam perdebatan tersebut. Seorang netizen bahkan melontarkan komentar singkat yang mempertanyakan relevansi pendidikan Maudy dengan sikapnya dalam menyikapi persoalan sosial.

"alumni top luar negeri tp outputnya nothing. useless," tulis netizen tersebut.

Beragam komentar itu membuat video Maudy yang awalnya membahas cara menjaga kepedulian sekaligus kesehatan diri kembali mendapat perhatian luas. Meski demikian, dalam video tersebut Maudy tidak secara langsung mengatakan seseorang harus mengabaikan persoalan di sekitarnya, melainkan membicarakan cara menghadapi derasnya informasi tanpa merasa terus-menerus terbebani.

Perdebatan akhirnya muncul karena pesan mengenai mindfulness tersebut dipandang berbeda oleh setiap kelompok. Bagi sebagian orang, menjaga kesehatan diri dari kelelahan akibat informasi merupakan hal penting, sementara bagi kelompok lain, mengambil jarak dari berita menjadi persoalan berbeda ketika seseorang mengalami langsung dampak dari isu yang sedang diberitakan.