Kualitas Udara Jakarta Terburuk Ketiga di Dunia, Warga Diminta Pakai Masker!

Genvoice.id | 14 Sep 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Gen, pagi Minggu (12/9/2025) jadi alarm keras buat warga Jakarta. Bayangin aja, kualitas udara di ibu kota masuk kategori tidak sehat dan langsung nangkring di posisi ketiga sebagai kota dengan polusi udara terburuk di dunia. Data ini dirilis situs pemantau kualitas udara global, IQAir, yang nunjukin indeks kualitas udara (AQI) Jakarta ada di angka 152. Angka segitu artinya konsentrasi polutan PM2,5 mencapai 57,5 mikrogram per meter kubik, yang jelas bukan kabar baik buat kesehatan.

Kategori "tidak sehat" sendiri berarti kondisi udara bisa berisiko bagi kelompok sensitif, misalnya anak kecil, lansia, atau orang dengan masalah pernapasan. Nggak cuma manusia, hewan peliharaan dan tumbuhan pun bisa kena dampaknya. IQAir juga ngasih rekomendasi biar masyarakat lebih hati-hati: sebisa mungkin hindari aktivitas di luar ruangan, kalau terpaksa keluar pakai masker, dan jangan lupa tutup jendela rumah biar udara kotor nggak gampang masuk.

Buat perbandingan, kualitas udara punya beberapa level. Kalau di angka 0-50 itu masih dianggap baik dan aman. Rentang 51-100 disebut sedang, yang biasanya nggak terlalu ngaruh ke manusia tapi bisa ganggu tumbuhan sensitif. Nah, angka 101-150 masuk kategori tidak sehat untuk kelompok tertentu. Begitu lewat 151 ke atas, kayak Jakarta pagi itu, risikonya makin besar buat kesehatan banyak orang. Kalau sampai di angka 200-299, statusnya "sangat tidak sehat", bahkan di level 300-500 disebut "berbahaya" karena bisa bikin gangguan serius bagi populasi umum.

Biar kebayang, kota yang ada di posisi pertama dengan polusi terparah saat itu adalah Kinshasa di Republik Demokratik Kongo dengan indeks 166. Posisi kedua Lahore, Pakistan dengan angka 158. Setelah Jakarta, ada Tashkent di Uzbekistan (126) dan Addis Ababa di Etiopia (120). Jadi, nggak heran Jakarta masuk daftar hitam kualitas udara dunia.

Sebagai upaya mengatasi masalah ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta sebelumnya udah merilis platform pemantau kualitas udara yang terintegrasi dengan 31 titik Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU). Data dari SPKU ini ditampilkan secara real-time dan nggabungin informasi dari DLH, BMKG, WRI Indonesia, sampai Vital Strategies. Harapannya, platform ini bisa bantu masyarakat lebih aware soal kondisi udara yang mereka hirup tiap hari.

Kenyataannya, Gen, masalah polusi di Jakarta emang belum kelar. Selama kesadaran dan langkah nyata nggak dijalankan bersama, bukan nggak mungkin peringkat ini bakal terus nempel di ibu kota. Jadi, jangan lupa jaga diri kamu, minimal pakai masker kalau harus keluar rumah.