Prichard Colon Meninggal Dunia di Usia 33 Tahun, 11 Tahun Jalani Perawatan Usai Cedera Otak

Genvoice.id | 14 Aug 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Petinju Puerto Rico, Prichard Colon, meninggal dunia pada usia 33 tahun setelah menjalani kehidupan dalam kondisi vegetatif selama sekitar 11 tahun akibat cedera otak traumatis yang dideritanya dalam sebuah pertandingan tinju.

Kabar duka tersebut disampaikan sang ayah, Richard Colon, melalui media sosial pada Jumat. Kepergian Colon mengakhiri perjuangan panjangnya sejak pertandingan melawan petinju Amerika Serikat, Terrel Williams, pada 2015.

"Saya menyesal harus memberi tahu bahwa anak saya Prichard telah meninggalkan dunia ini," tulis Richard dalam unggahannya, yang diterjemahkan dari bahasa Spanyol.

Richard juga menyampaikan terima kasih kepada orang-orang yang selama bertahun-tahun memberikan dukungan dan doa untuk putranya. Dia meminta agar keluarga tetap didoakan setelah kepergian Colon.

Cedera Terjadi dalam Pertandingan Melawan Terrel Williams

Colon memasuki pertarungan melawan Williams dengan catatan sempurna 16 kemenangan tanpa kekalahan, termasuk 13 kemenangan melalui knockout. Namun, pertandingan tersebut kemudian menjadi salah satu duel yang paling disorot karena sejumlah pukulan ilegal ke bagian belakang kepala yang diterimanya.

Sepanjang pertandingan, Colon beberapa kali terlihat memegang bagian belakang kepalanya dan berusaha memberi tahu wasit mengenai pukulan tersebut. Dia juga menunjukkan tanda-tanda mengalami masalah fisik dan mengeluhkan rasa sakit serta pusing.

Meski demikian, pertandingan tetap dilanjutkan. Williams sempat tidak mendapat pengurangan poin atas sejumlah pukulan ilegal pada awal pertarungan. Sementara itu, Colon justru sempat mendapat pengurangan dua poin setelah dinilai melakukan pukulan rendah terhadap lawannya.

Williams kemudian mendapat pengurangan satu poin karena kembali melakukan pukulan ke bagian belakang kepala Colon.

Situasi tersebut menjadi semakin serius ketika Colon akhirnya jatuh ke kanvas pada ronde kesembilan. Timnya sempat mengira pertandingan telah berakhir dan melepaskan sarung tinjunya. Namun, pertandingan belum dinyatakan selesai sehingga Colon akhirnya dinyatakan kalah melalui diskualifikasi.

Colon Dilarikan ke Rumah Sakit

Setelah pertandingan, kondisi Colon semakin memburuk. Dia membutuhkan bantuan untuk menuju ruang ganti, kemudian muntah dan ambruk. Timnya segera membawanya ke rumah sakit.

Colon kemudian didiagnosis mengalami subdural hematoma atau perdarahan di antara selaput otak. Dia menjalani prosedur medis darurat untuk mengurangi pembengkakan pada otak.

Cedera tersebut membuat Colon mengalami koma selama 221 hari. Setelah sadar, kondisinya telah berubah secara permanen. Dia berada dalam kondisi vegetatif dan tidak dapat berbicara secara normal, sehingga membutuhkan komputer untuk berkomunikasi.

Sejak saat itu, Colon menjalani perawatan dengan bantuan keluarganya hingga akhir hayat.

Peristiwa dalam pertandingan tersebut juga berujung pada persoalan hukum. Keluarga Colon mengajukan gugatan malapraktik senilai 50 juta dolar AS atau sekitar Rp810 miliar terhadap tenaga medis yang bertugas di sisi ring dan mengizinkan pertandingan berlanjut. Perkara tersebut disebut belum terselesaikan.

Keluarga Selalu Berharap Colon Pulih

Selama bertahun-tahun, keluarga Colon tetap berharap dia dapat menunjukkan perkembangan positif. Dalam wawancara ESPN pada 2016, ibunya, Nieves Colon, mengatakan dirinya masih percaya putranya suatu hari dapat terbangun dari kondisi tersebut.

"Saya masih memiliki harapan karena saya percaya kepada Tuhan. Saya juga percaya kepada anak saya," ungkap Nieves kala itu.

Ayahnya, Richard, juga mengatakan bahwa dokter tidak memberikan banyak harapan mengenai kemungkinan pemulihan Colon. Meski demikian, dia tetap percaya akan adanya keajaiban.

Sepanjang kariernya, Colon sempat menjadi salah satu prospek tinju yang menjanjikan. Dia meraih medali emas Kejuaraan Pan Amerika Junior 2010 di kelas 64 kilogram dan kemudian mendapat status sebagai honorary WBC World Champion.

WBO Sampaikan Duka

Kabar meninggalnya Colon turut mendapat perhatian dari dunia tinju. Presiden World Boxing Organization (WBO), Gustavo Olivieri, menyampaikan belasungkawa melalui media sosial.

Menurut Olivieri, perjalanan hidup Colon telah menyentuh komunitas tinju karena keberanian dan keteguhannya dalam menghadapi kondisi yang dialaminya selama bertahun-tahun.

WBO juga menyampaikan simpati kepada keluarga serta orang-orang yang selama ini mendampingi Colon. Organisasi tersebut menyebut kenangan terhadap sang petinju akan tetap hidup di komunitas tinju.

Meski Colon meninggal setelah bertahun-tahun mengalami dampak cedera otak, belum ada keterangan resmi yang memastikan bahwa kematiannya secara langsung disebabkan oleh cedera yang dialami dalam pertandingan melawan Williams pada 2015.