Belajar Kejujuran dari Bung Hatta: Tolak Uang Saku Perjalanan Dinas dan Kembalikan Sisa Anggaran Negara
JAKARTA, GENVOICE.ID -Di tengah maraknya isu korupsi dan penyalahgunaan anggaran oleh para oknum pejabat, kisah kejujuran Bung Hatta hadir sebagai penawar sekaligus cermin moral bagi bangsa ini. Proklamator sekaligus Wakil Presiden pertama Indonesia, Mohammad Hatta, dikenal sebagai sosok pemimpin yang sangat memegang teguh integritas dan kesederhanaan.
Komitmennya dalam menjaga keuangan negara bukan sekadar retorika, melainkan dibuktikan lewat tindakan nyata yang enggan mengambil hak yang bukan miliknya. Lantas, seperti apa keteladanan Bung Hatta menolak uang saku dan mengembalikan anggaran negara tersebut? Simak kisah inspiratif selengkapnya berikut ini.
Menolak Uang Saku Perjalanan ke Irian Jaya (1970)
Kisah pertama terjadi pada tahun 1970 ketika Bung Hatta, yang saat itu sudah tidak menjabat sebagai wakil presiden, mendapat undangan untuk mengunjungi Irian Jaya (sekarang Papua). Kunjungan tersebut juga menjadi momen emosional bagi Bung Hatta untuk melihat kembali tempat pengasingannya di masa kolonial Belanda.
Setibanya di sana, Menteri Koordinator Keuangan saat itu, Sumarno, menyodorkan sebuah amplop berisi uang saku perjalanan dinas untuk Bung Hatta dan rombongan.
"Tidak, itu uang rakyat. Saya tidak mau terima. Kembalikan," tegas Bung Hatta menolak amplop tersebut.
Meskipun Sumarno menjelaskan bahwa uang saku tersebut merupakan hak resmi pejabat sesuai aturan anggaran, Bung Hatta tetap menolak keras. Bagi Bung Hatta, seluruh fasilitas dan ongkos perjalanannya sudah ditanggung oleh pemerintah, sehingga tidak ada alasan untuk menerima uang tambahan.
Saat berada di Tanah Merah, Digul, Bung Hatta meminta amplop tersebut dan langsung menyerahkannya kepada pemuka masyarakat setempat. Ia menegaskan: "Ini uang berasal dari rakyat dan telah kembali ke tangan rakyat."
Mengembalikan Sisa Anggaran Berobat dari Belanda (1971)
Setahun berikutnya, pada 1971, Bung Hatta menjalani pengobatan medis ke Belanda yang ditanggung oleh pemerintah. Sekembalinya ke tanah air, hal pertama yang diminta Bung Hatta kepada sekretaris pribadinya, I Wangsa Widjaja, adalah laporan rincian pengeluaran.
Setelah diperiksa, ternyata masih ada sisa dana dari anggaran perjalanan tersebut. Bung Hatta lantas memerintahkan Wangsa untuk segera mengembalikan sisa uang tersebut ke Sekretariat Negara (Setneg).
Momen Ditolak di Sekretariat Negara
-
Respons Setneg: Ketika Wangsa hendak menyerahkan uang sisa tersebut, para petugas di Setneg justru heran dan tertawa. Menurut kebiasaan, anggaran yang sudah dikeluarkan untuk perjalanan dinas mantan pejabat dianggap sah menjadi milik yang bersangkutan.
-
Teguran Keras Bung Hatta: Ketika Wangsa melaporkan kendala tersebut, Bung Hatta justru menegurnya dengan tegas:
"Kebutuhan rombongan dan saya sudah tercukupi, jadi harus dikembalikan. Kalau masih ada sisanya, itu wajib dikembalikan!"
Walaupun kondisi ekonomi pribadinya saat itu terbilang sangat sederhana dan jauh dari kata mewah, Bung Hatta tidak pernah tergiur untuk memanfaatkan celah anggaran negara demi kepentingan pribadi. Setelah Wangsa berhasil mengembalikan uang tersebut dan membawa bukti penyerahan resmi, barulah Bung Hatta merasa lega dan puas.
Kisah keteladanan Mohammad Hatta ini menjadi tamparan keras sekaligus pengingat berharga bagi para penyelenggara negara di era modern. Sikap jujur, sederhana, dan takut memakan uang rakyat adalah warisan nilai teragung yang seharusnya diteladani oleh setiap pemimpin bangsa hari ini.