17 Tokoh Kemerdekaan Indonesia yang Berjasa Besar Selain Soekarno dan Hatta: Dari Sayuti Melik, Fatmawati, hingga Laksamana Maeda

Genvoice.id | 14 Aug 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID -Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus selalu menjadi momen bersejarah untuk mengenang lahirnya bangsa yang merdeka dan berdaulat. Di balik keberhasilan lepas dari cengkeraman penjajah, terdapat deretan tokoh kemerdekaan Indonesia yang menorehkan kontribusi luar biasa.

Tidak hanya bertumpu pada Bung Karno dan Bung Hatta, sejarah Indonesia juga dibangun oleh para pejuang yang bergerak di ranah diplomasi, penyusunan naskah proklamasi, pengamanan, hingga perjuangan jurnalistik.

Memahami peran tokoh proklamasi dan pahlawan nasional ini sangat penting untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air serta menghargai perjuangan para pendiri bangsa. Simak daftar lengkap 17 pahlawan kemerdekaan beserta peran besarnya berikut ini.

Daftar Pahlawan Kemerdekaan Indonesia Beserta Peran Besarnya

1. Ir. Soekarno

Lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901, Bung Karno merupakan Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia. Setelah menuntaskan pendidikan insinyur di Technische Hoogeschool te Bandoeng (kini ITB) pada 1926, ia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) untuk menggalang perlawanan terhadap kolonial Belanda.

Peran krusial Soekarno meliputi penyampaian gagasan Pancasila dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, menyusun serta menandatangani naskah Proklamasi bersama Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo, hingga membacakannya secara resmi pada 17 Agustus 1945 sebelum diangkat menjadi Presiden sehari setelahnya.

2. Drs. Mohammad Hatta

Bung Hatta lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902 dan mengenyam pendidikan ekonomi di Rotterdam, Belanda. Selama menuntut ilmu di Eropa, ia memimpin Perhimpunan Indonesia dan gigih memperjuangkan kemerdekaan hingga sempat diasingkan ke Boven Digoel dan Banda Neira oleh pemerintah kolonial.

Bersama Soekarno, Bung Hatta berperan aktif di BPUPKI dan Panitia Sembilan dalam merumuskan UUD 1945 dan Pancasila, menandatangani serta mendampingi pembacaan naskah Proklamasi, dan mengabdi sebagai Wakil Presiden pertama Indonesia.

3. Sayuti Melik (Mohammad Ibnu Sayuti)

Lahir di Sleman pada 25 November 1908, Sayuti Melik adalah seorang wartawan dan aktivis pergerakan yang mendirikan surat kabar Pesat bersama istrinya, S.K. Trimurti. Peran sejarah paling menonjol dari Sayuti Melik terjadi pada dini hari 17 Agustus 1945 di kediaman Laksamana Tadashi Maeda, di mana ia bertugas mengetik ulang draft naskah Proklamasi tulisan tangan Soekarno.

Ia juga melakukan perbaikan redaksional, seperti mengubah kata "tempoh" menjadi "tempo" dan frasa "wakil-wakil bangsa Indonesia" menjadi "Atas nama bangsa Indonesia".

4. Fatmawati

Ibu Negara pertama Republik Indonesia dan istri dari Presiden Soekarno ini lahir di Bengkulu pada 5 Februari 1923. Jasa monumental Fatmawati adalah menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih yang dikibarkan saat detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1945, meskipun kala itu ia sedang dalam kondisi hamil tua.

Atas dedikasi sosial dan kemanusiaannya, termasuk mengelola dapur umum bagi para pejuang, Fatmawati dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2000.

5. Sutan Sjahrir

Sutan Sjahrir dikenal sebagai tokoh perintis kemerdekaan dan Perdana Menteri pertama Indonesia yang memilih jalur perlawanan bawah tanah serta diplomasi internasional. Selama masa pendudukan Jepang, Sjahrir memimpin jaringan rahasia dan menjadi figur utama yang mendesak Soekarno-Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan begitu mendengar Jepang menyerah kepada Sekutu.

Pasca-kemerdekaan, ia memimpin delegasi diplomasi Indonesia, salah satunya dalam Perundingan Linggarjati untuk meraih pengakuan kedaulatan dari dunia internasional.

6. Mr. Johannes Latuharhary

Lahir di Saparua pada 6 Juli 1900, Johannes Latuharhary merupakan pakar hukum lulusan Universitas Leiden tahun 1927 yang kemudian menjabat sebagai Gubernur pertama Maluku. Dalam masa persiapan kemerdekaan, ia bergabung sebagai anggota BPUPKI dan PPKI untuk menyusun dasar negara dan UUD 1945.

Selain berjuang di jalur diplomasi, Latuharhary dikenal sangat gigih mempertahankan wilayah Maluku agar tetap berdiri kokoh sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

7. Soekarni Kartodiwirjo

Soekarni adalah sosok pemimpin golongan muda kelahiran Blitar, 14 Juli 1916, yang dikenal sangat berani dan vokal. Peran krusial Soekarni tepercik dalam Peristiwa Rengasdengklok saat ia bersama pemuda lainnya mengamankan Soekarno dan Hatta untuk menyegerakan proklamasi.

Ia juga hadir dalam penyusunan naskah Proklamasi dan memberi usul agar naskah otentik tersebut ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia. Gelar Pahlawan Nasional disematkan kepadanya pada tahun 2014.

8. Chaerul Saleh

Lahir di Sawahlunto pada 13 September 1916, Chaerul Saleh merupakan tokoh muda berjiwa nasionalis tinggi dan penggerak kelompok Menteng 31. Menjelang Proklamasi, Chaerul Saleh memimpin forum pemuda yang menuntut agar kemerdekaan dicanangkan secara murni atas kehendak bangsa Indonesia tanpa campur tangan pihak Jepang. Ia juga menjadi salah satu penggerak utama di balik aksi pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok.

9. Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo

Ahmad Soebardjo merupakan tokoh pergerakan nasional yang menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pertama Republik Indonesia. Anggota BPUPKI dan Panitia Sembilan ini bertindak sebagai perumus Piagam Jakarta.

Peran pentingnya menjelang Proklamasi adalah menjadi penengah perselisihan antara golongan muda dan tua dalam Peristiwa Rengasdengklok, serta menyusun naskah Proklamasi bersama Soekarno dan Hatta di rumah Laksamana Maeda.

10. Raden Otto Iskandar Dinata

Mendapat julukan Si Jalak Harupat, Otto Iskandar Dinata lahir di Bandung pada 31 Maret 1897 dan mengawali kariernya sebagai guru serta pimpinan Paguyuban Pasundan.

Sebagai anggota BPUPKI dan PPKI, ia berkontribusi besar merancang pembentukan negara, yang kemudian diangkat menjadi Menteri Negara dalam kabinet pertama serta membidani lahirnya Badan Keamanan Rakyat (BKR). Otto Iskandar Dinata gugur dalam tugas pada 19 Desember 1945 setelah diculik oleh kelompok tak dikenal.

11. Dr. Boentaran Martoatmodjo

Dr. Boentaran Martoatmodjo adalah seorang dokter pejuang kelahiran 1896 yang bertugas di BPUPKI dan diangkat sebagai Menteri Kesehatan pertama Indonesia pada Kabinet Presidensial 1945. Selain meletakkan fondasi awal sistem kesehatan nasional bagi rakyat dan pejuang, Dr. Boentaran juga mendapat mandate langsung dari Presiden Soekarno untuk mendirikan Palang Merah Indonesia (PMI).

12. Dr. G.S.S.J. Sam Ratulangi

Cendekiawan asal Sulawesi Utara yang lahir pada 5 November 1890 ini merupakan orang Indonesia pertama yang mengantongi gelar doktor bidang ilmu pasti dari Universitas Zurich, Swiss.

Anggota PPKI yang memegang teguh filsafat Si Tou Timou Tumou Tou ini turut mengesahkan UUD 1945 dan mengangkat Presiden-Wakil Presiden. Menjabat sebagai Gubernur Sulawesi pertama, Sam Ratulangi aktif menyebarkan berita Proklamasi dan mengamankan wilayah Sulawesi tetap berada di bawah panji NKRI.

13. Laksamana Muda Tadashi Maeda

Laksamana Maeda adalah perwira tinggi Angkatan Laut Jepang yang menaruh simpati mendalam terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bentuk dukungan terbesarnya adalah menyediakan rumah dinasnya di Jakarta sebagai lokasi perumusan naskah Proklamasi pada malam 16 Agustus 1945, sekaligus menjamin keselamatan Soekarno, Hatta, dan para tokoh nasional selama proses perumusan berlangsung.

14. Raden Mas Abdul Latief Hendraningrat

Latief Hendraningrat merupakan perwira PETA kelahiran Jakarta, 15 Februari 1911, yang berlatar belakang sebagai pendidik. Dikenal luas atas perannya sebagai pengibar bendera Merah Putih bersama Suhud Sastro Kusumo dalam upacara Proklamasi 17 Agustus 1945, Latief juga bertanggung jawab mengamankan area Pegangsaan Timur dari potensi gangguan militer Jepang.

15. Suhud Sastro Kusumo

Suhud Sastro Kusumo adalah tokoh pemuda dari Barisan Pelopor kelahiran 10 April 1925. Pada hari pembacaan Proklamasi, Suhud bertugas menyiapkan tiang bendera sederhana dari bambu, menjaga ketertiban lokasi acara di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, serta mendampingi Latief Hendraningrat dalam menaikkan Sang Saka Merah Putih.

16. Surastri Karma Trimurti (S.K. Trimurti)

S.K. Trimurti adalah pejuang perempuan, jurnalis, dan aktivis buruh yang sering dipenjara akibat tulisan kritisnya terhadap pemerintah kolonial. Dalam upacara Proklamasi 17 Agustus 1945, Trimurti hadir sebagai pembawa baki Bendera Merah Putih sebelum dikibarkan. Setelah Indonesia merdeka, ia mengemban amanat sebagai Menteri Perburuhan pertama yang konsisten memperjuangkan hak-hak pekerja.

17. dr. Moewardi

Lahir di Pati pada 30 Januari 1907, dr. Moewardi merupakan lulusan STOVIA yang dikenal sebagai "dokter kaum miskin". Selain mengabdi di dunia medis, ia memimpin Barisan Pelopor yang bertugas mengamankan area pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, serta membentuk Barisan Pelopor Istimewa untuk mengawal keselamatan Presiden Soekarno pasca-kemerdekaan.

Perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia merupakan buah dari sinergi, pengorbanan, serta keberanian para tokoh lintas generasi dan profesi.

Dengan mengenal lebih dekat peran besar sosok-sosok bersejarah ini, generasi penerus bangsa diharapkan dapat terus meneladani nilai-nilai patriotisme dan menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.