Pasar Burung Barito Terancam Digusur Demi Taman ASEAN, Pedagang dan Warga Heboh

Genvoice.id | 14 Jul 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Pasar Burung Barito terancam digusur karena proyek Taman ASEAN, pedagang resah dan warga Jakarta ikut bersuara.

Suasana riuh khas Pasar Burung Barito, Jakarta Selatan, bisa saja tinggal kenangan. Pasar legendaris yang udah berdiri sejak 1979 ini sekarang lagi diliputi awan kecemasan. Pasalnya, rencana relokasi kembali mencuat dan bikin pedagang ketar-ketir.

Tempat yang dulu cuma kumpulan gerobak jualan kini Sudah menjelma jadi pusat jual beli burung dan perlengkapan hewan peliharaan yang terkenal, bahkan sampai ke turis luar negeri. Tapi, kabar relokasi bikin banyak pedagang panik.

Bayangin saja, sudah puluhan tahun mereka membangun usaha dari nol, sekarang harus pindah dan mulai semuanya lagi dari awal? Belum lagi banyak yang baru saja bangkit usai revitalisasi besar-besaran yang selesai tahun 2023 kemarin.

Beberapa pedagang di Barito, bilang kalau dampak finansial dari relokasi bisa jadi parah banget. Banyak pelanggan belum tentu mau datang ke lokasi baru. Apalagi kalau tempat barunya jauh atau susah diakses. Belum lagi, satu kios biasanya menghidupi lebih dari satu keluarga. Kalau penghasilan anjlok, bagaimana nasib dapur mereka?

Rencananya, Pasar Burung Barito bakal dipindah ke lahan pertamanan di Jagakarsa, dekat Stasiun Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Tapi info ini masih simpang siur. Sosialisasi memang katanya bakal dimulai, tapi surat resmi saja belum ada. Semua masih sebatas obrolan dari mulut ke mulut.

Buat para pedagang, Barito bukan sekadar pasar tapi itu rumah kedua, tempat tumbuh bareng pelanggan dari generasi ke generasi. Jadi wajar kalau mereka berharap banget rencana relokasi ini bisa dibatalkan. Soalnya, kehilangan Barito bukan cuma kehilangan tempat jualan, tapi juga kehilangan bagian penting dari identitas Kebayoran Baru dan Jakarta Selatan.

Rencana relokasi Pasar Burung Barito memang masih dalam tahap wacana, tapi dampaknya sudah terasa bagi para pedagang yang selama ini menggantungkan hidup di sana. Barito bukan hanya soal jual beli burung, tapi juga bagian dari sejarah, ekonomi, dan identitas budaya Jakarta Selatan. Semoga pemerintah bisa mendengar suara para pedagang dan mempertimbangkan solusi terbaik yang tidak merugikan banyak pihak.