Rupiah Nyaris Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Ini 6 Mata Uang Terlemah di Asia Versi Forbes

Genvoice.id | 14 Jun 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID -Kondisi nilai tukar mata uang global saat ini tengah mengalami tekanan besar terhadap dolar Amerika Serikat (AS), tidak terkecuali mata uang di kawasan Asia.

Fluktuasi kurs ini menjadi cerminan nyata dari stabilitas ekonomi suatu negara yang dipengaruhi oleh tingkat inflasi, gejolak geopolitik, hingga tingkat kepercayaan investor.

Salah satu yang paling disorot adalah pergerakan rupiah Indonesia yang belakangan sempat menyentuh level psikologis baru.

Untuk mengetahui kekuatan ekonomi regional, simak ulasan Forbes mengenai daftar enam mata uang terlemah di Asia per Juni 2026, posisi Indonesia di peringkat berapa, serta dampak berantainya yang berpotensi merembet hingga ke masyarakat pedesaan.

Deretan Mata Uang Paling Tertekan di Asia Terhadap Dolar AS

Berdasarkan data konverter mata uang Forbes yang bersumber dari Open Exchange, berikut adalah enam mata uang dengan nilai tukar terendah di Asia, yang sekaligus menempati posisi terlemah di dunia:

1. Rial Iran (IRR)

Posisi pertama mata uang terlemah dipegang oleh Rial Iran. Kurs 1 dolar AS setara dengan 1.315.000 IRR pada awal bulan, dan terus merosot hingga menyentuh angka 1.376.000 IRR. Penurunan tajam nilai mata uang ini dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik yang melibatkan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.

2. Pound Lebanon (LBP)

Lebanon berada di peringkat kedua akibat krisis multidimensi. Satu dolar AS bernilai sekitar 89.252 hingga 89.432 LBP. Lesunya perekonomian domestik, tingginya angka pengangguran, krisis perbankan yang parah, serta inflasi dan ketidakstabilan politik menjadi penyebab utama rontoknya nilai Pound Lebanon.

3. Dong Vietnam (VND)

Di Asia Tenggara, Dong Vietnam menempati posisi yang cukup rentan dengan nilai tukar berada di kisaran 26.332 VND per dolar AS. Nilai dong tertekan akibat adanya pembatasan serta perlambatan pada sektor ekspor, ditambah dengan efek kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan oleh bank sentral AS.

4. Kip Laos (LAK)

Masih dari kawasan ASEAN, Laos menempati urutan keempat dengan nilai tukar mencapai 21.940 LAK per dolar AS. Kombinasi dari pertumbuhan ekonomi yang lambat, tumpukan utang luar negeri yang terus membengkak, serta laju inflasi yang tinggi menjadi faktor utama yang menekan mata uang Kip.

5. Rupiah Indonesia (IDR)

Indonesia berada di peringkat kelima dalam daftar mata uang terlemah di Asia. Nilai tukar rupiah sempat melemah hingga menyentuh Rp 18.000 dan kini berada di kisaran Rp 17.923 per dolar AS. Meskipun Indonesia memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar di Asia Tenggara yang ditopang sektor jasa dan kekayaan komoditas, rupiah tetap terdepresiasi akibat tingginya laju inflasi serta kekhawatiran pasar terhadap risiko resesi.

6. Som Uzbekistan (UZS)

Peringkat keenam diisi oleh Som Uzbekistan dengan nilai tukar menembus 11.970 UZS per dolar AS. Kendati negara ini kaya akan cadangan gas bumi, minyak, mineral, serta menjadi salah satu eksportir kapas utama dunia, perekonomiannya terhambat oleh tata kelola yang korup, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi yang rendah.

Efek Domino Pelemahan Rupiah ke Sektor Riil dan Masyarakat Desa

Depresiasi nilai tukar rupiah tidak boleh dianggap sepele. Menurut pakar ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, dampak penurunan kurs ini akan menciptakan efek berantai yang langsung dirasakan oleh masyarakat di pedesaan melalui jalur inflasi.

Jika pelemahan kurs memicu pengurangan subsidi yang berujung pada kenaikan harga BBM, maka biaya transportasi dan distribusi logistik dipastikan ikut membubung tinggi. Kondisi ini secara otomatis akan mengatrol harga barang kebutuhan pokok dan menggerus daya beli masyarakat luas.

Lebih lanjut, ketergantungan industri dalam negeri terhadap bahan baku impor memperparah situasi ini. Sebagai contoh, industri peternakan lokal masih sangat bergantung pada jagung impor untuk pakan, begitu pula pengrajin tahu dan tempe yang mengandalkan kedelai impor.

Selain pangan, barang-barang yang dekat dengan keseharian seperti gawai (smartphone), barang elektronik, hingga komponen otomotif juga memiliki kandungan impor yang tinggi, sehingga harganya akan ikut naik di pasaran.

Pelemahan nilai tukar rupiah membuktikan bahwa dinamika ekonomi global memiliki pengaruh yang sangat nyata terhadap isi dompet kita sehari-hari, bahkan hingga ke sektor-sektor usaha mikro di desa.

Di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan ini, penyesuaian apa saja yang sudah mulai gen lakukan untuk mengamankan keuangan pribadi? Yuk, tuliskan pendapatmu di kolom komentar di bawah ini!