Aktivis KontraS Disiram Air Keras, Ini Fakta-Faktanya

Genvoice.id | 14 Mar 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Seorang aktivis hak asasi manusia dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tak dikenal di kawasan Jakarta Pusat pada Kamis malam (12/3). Insiden tersebut terjadi setelah Andrie menghadiri sebuah acara diskusi yang digelar di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Peristiwa tersebut memicu perhatian publik, terutama dari kalangan pegiat HAM dan lembaga negara, karena dinilai sebagai bentuk kekerasan serius terhadap aktivis masyarakat sipil.

Mengalami luka serius

Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, menjelaskan bahwa serangan terjadi sekitar pukul 23.00 WIB, tidak lama setelah Andrie meninggalkan kegiatan podcast bertajuk "Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia".

Menurut keterangan KontraS, Andrie diserang oleh orang tak dikenal yang menyiramkan cairan yang diduga air keras ke arah tubuhnya. Serangan tersebut menyebabkan luka serius di sejumlah bagian tubuh korban.

Luka paling parah dilaporkan terdapat di area tangan kanan dan kiri, wajah, dada, serta bagian mata. Setelah kejadian itu, Andrie segera mendapatkan pertolongan dan dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan medis.

Mengalami luka bakar 24 persen

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis awal, korban diketahui mengalami luka bakar dengan tingkat keparahan mencapai sekitar 24 persen dari total permukaan tubuh.

Cedera tersebut terutama disebabkan oleh cairan kimia yang mengenai beberapa bagian vital tubuh. Kondisi ini membuat Andrie harus mendapatkan penanganan intensif dari tim medis.

Diduga dilakukan dua pelaku

KontraS menyebut serangan itu diduga dilakukan oleh dua orang pelaku yang berboncengan menggunakan sepeda motor. Keduanya disebut mendekati korban dari arah berlawanan di sekitar Jalan Talang atau kawasan Jembatan Talang.

Motor yang digunakan pelaku diduga merupakan tipe Honda Beat produksi sekitar tahun 2016 hingga 2021.

Salah satu pelaku berperan sebagai pengendara, sementara pelaku lainnya bertindak sebagai penumpang yang melakukan penyiraman cairan berbahaya tersebut.

Ciri-ciri pelaku juga sempat dijelaskan oleh pihak KontraS. Salah satunya mengenakan pakaian dengan kombinasi warna putih dan biru, celana gelap yang diduga berbahan jeans, serta sepatu berwarna hitam. Sementara pelaku lainnya memakai masker atau penutup wajah berwarna hitam yang menutupi sebagian wajah, kaos biru tua, dan celana panjang biru yang digulung.

Setelah cairan disiramkan, korban dilaporkan berteriak kesakitan dan terjatuh dari sepeda motor yang dikendarainya.

Diduga upaya membungkam kritik

KontraS menilai serangan tersebut tidak dapat dilepaskan dari aktivitas advokasi yang dilakukan oleh korban sebagai pembela HAM.

Menurut organisasi tersebut, insiden penyiraman air keras ini diduga merupakan bentuk intimidasi yang bertujuan membungkam suara kritis masyarakat sipil, khususnya mereka yang aktif memperjuangkan isu hak asasi manusia.

Polisi lakukan penyelidikan

Pihak Kepolisian Negara Republik Indonesia melalui Divisi Humas juga telah memberikan tanggapan terkait kasus tersebut. Kepala Divisi Humas Polri, Johnny Eddizon Isir, menyatakan bahwa penyelidikan sedang dilakukan untuk mengungkap pelaku.

Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara serta mengumpulkan sejumlah bukti digital, termasuk rekaman kamera pengawas atau CCTV yang berada di sekitar lokasi.

Selain itu, aparat juga telah meminta keterangan dari beberapa saksi yang berada di lokasi saat kejadian. Sejauh ini dua saksi sudah dimintai keterangan, namun jumlah saksi diperkirakan masih akan bertambah selama proses penyelidikan berlangsung.

DPR minta kasus diusut tuntas

Sejumlah anggota DPR turut menyoroti insiden tersebut dan mendesak kepolisian agar mengusut tuntas pelaku serta motif di balik serangan.

Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira, mengecam keras tindakan kekerasan tersebut dan meminta aparat segera mengungkap pelaku.

Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua Komisi III DPR, Ahmad Sahroni. Ia menilai peristiwa tersebut dapat berdampak buruk terhadap iklim demokrasi jika terbukti berkaitan dengan aktivitas korban sebagai aktivis.

Sementara itu, Kapolri Listyo Sigit Prabowo disebut telah memberikan perhatian khusus terhadap kasus ini dan memerintahkan jajarannya untuk mengusut tuntas kejadian tersebut serta menangkap pelaku yang bertanggung jawab.