Towel Bongkar Biang Kerok Gagalnya Timnas U22 di SEA Games, Indra Sjafri dan Faksi PSSI Disorot

Genvoice.id | 13 Dec 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Kegagalan timnas Indonesia U22 melangkah ke semifinal SEA Games Thailand 2025 menuai kritik tajam. Pengamat sepak bola Tommy Welly alias Towel menilai hasil mengecewakan ini bukan sekadar soal teknis di lapangan, melainkan berakar pada persoalan kepelatihan dan dinamika internal di tubuh PSSI.

Datang dengan status juara bertahan usai meraih emas SEA Games 2023, langkah timnas U22 justru terhenti di fase grup. Kekalahan 0-1 dari Filipina dan kemenangan 3-1 atas Myanmar membuat Indonesia gagal bersaing sebagai salah satu runner-up terbaik Grup C.

Menurut Towel, persoalan utama ada pada keputusan mempertahankan Indra Sjafri sebagai pelatih. Ia menyoroti fakta bahwa timnas U22 menjalani pemusatan latihan yang jauh lebih panjang dibandingkan turnamen lain seperti AFF maupun AFC U-23, namun hasil di SEA Games justru tidak sejalan dengan persiapan tersebut.

Towel menyebut situasi ini sebagai paradoks. Di satu sisi, Indra Sjafri kerap disebut memiliki rekam jejak bagus dan pendekatan berbasis sports science. Namun di sisi lain, hasil di lapangan tidak mencerminkan klaim tersebut. Ia bahkan menyindir bahwa narasi "pelatih bertangan dingin" yang kerap disampaikan elite PSSI terbukti tidak berbanding lurus dengan prestasi.

Ia juga mempertanyakan kecenderungan PSSI yang terus-menerus menunjuk Indra Sjafri, seolah tidak ada alternatif pelatih lain untuk tim nasional kelompok usia. Menurutnya, sepak bola Indonesia tidak bisa terus berhenti pada satu nama yang sama.

Tak hanya soal pelatih, Towel juga menyinggung adanya faksi-faksi di tubuh PSSI yang dinilai ikut berkontribusi pada kegagalan ini. Ia secara terang-terangan menyebut Wakil Ketua Umum PSSI, Zainudin Amali, sebagai sosok yang berada di balik penunjukan Indra Sjafri sebagai pelatih timnas U22.

Sebelum keberangkatan ke SEA Games 2025, Zainudin Amali memang sempat menyampaikan target emas untuk timnas U22. Target tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan sasaran dari Kementerian Pemuda dan Olahraga yang mematok medali perak.

Bagi Towel, kegagalan ini tak bisa dilepaskan dari tanggung jawab struktural. Ia menyebut timnas U22 berada di bawah kendali langsung Zainudin Amali sebagai pimpinan proyek, sehingga konsekuensi atas hasil buruk seharusnya juga ditanggung oleh pihak yang membuat keputusan.

Kritik keras ini menambah panjang daftar evaluasi untuk sepak bola Indonesia pasca kegagalan di SEA Games 2025. Publik kini menanti, apakah PSSI akan benar-benar melakukan pembenahan, atau justru kembali mengulang pola lama.