Para Perasuk Karya Wregas Bhanuteja Resmi Wakil Indonesia di Sundance Film Festival 2026, Angga Yunanda Berjuang Membalik Perspektif Tradisi Kerasukan!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Gen, ada kabar yang sangat membanggakan dari industri film Indonesia! Karya terbaru sutradara jenius, Wregas Bhanuteja, yang berjudul 'Para Perasuk', resmi terpilih untuk mewakili Indonesia dalam ajang bergengsi Sundance Film Festival 2026!
Film ini tidak hanya akan menjalani penayangan perdana dunia (world premiere) di Amerika Serikat, tetapi juga akan berkompetisi di kategori paling prestisius, yaitu 'World Cinema Dramatic Competition'.
Produser film 'Para Perasuk', Iman Usman, mengungkapkan rasa bangganya di Jakarta, Kamis (11/12/2025). Ia menyebut, terpilihnya film ini adalah bukti bahwa cerita Indonesia memiliki tempat yang besar dan setara di panggung internasional.
"Kami selalu percaya bahwa cerita Indonesia punya ruang besar untuk berdiri sejajar di panggung dunia. Setelah proses yang panjang, kami bangga mengumumkan bahwa 'Para Perasuk' terpilih sebagai satu dari hanya sepuluh film internasional yang berkompetisi di 'World Cinema Dramatic Competition Sundance' 2026," ujar Iman Usman.
Program kompetisi yang diikuti 'Para Perasuk' ini memang sangat eksklusif, hanya menampilkan sepuluh film internasional terpilih dari ribuan kandidat yang mendaftar.
Tradisi Kerasukan dari Sudut Pandang yang Humanis
Setelah sukses dengan Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti, film ini menjadi karya panjang ketiga Wregas Bhanuteja. Kali ini ia memilih genre drama supranatural yang memadukan unsur fantasi, psikologis, dan lintas seni. Skenarionya sendiri ditulis bersama Alicia Angelina dan Defi Mahendra.
Wregas menjelaskan bahwa Para Perasuk dibuat dengan niat untuk membalikkan perspektif umum. Jika biasanya kerasukan digunakan untuk menakut-nakuti penonton, film ini justru ingin menampilkan tradisi kerasukan sebagai ruang kebahagiaan masyarakat setempat dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Pendekatan ini dihadirkan untuk melepaskan beban psikologis keseharian melalui sudut pandang yang humanis dan dekat dengan pengalaman sosial kolektif.
"Film ini saya buat dengan maksud untuk membalikkan perspektif dimana biasanya kerasukan dipakai untuk menakut-nakuti. Film ini dihadirkan dengan humanis dan memperlihatkan sisi kemanusiaan dari orang-orang yang terlibat dalam pesta kerasukan," ucap Wregas.
Ia juga menambahkan bahwa meskipun latar cerita film ini fiktif, tradisi kerasukan adalah hal nyata yang luas dijumpai di berbagai daerah bahkan dunia. Kondisi tersebutlah yang membuat kisah 'Para Perasuk' dianggap relevan secara universal dan dapat dinikmati penonton dari berbagai latar belakang budaya.
Perjuangan Bayu dan Eksplorasi Angga Yunanda
Cerita 'Para Perasuk' mengikuti kisah Bayu, seorang pemuda dari desa Latas yang punya cita-cita tinggi, yaitu menjadi seorang perasuk andal. Tradisi pesta kerasukan di desa tersebut menjadi ritual turun-temurun sekaligus hiburan utama masyarakat pinggiran kota kecil.
Konflik mulai muncul ketika mata air suci desa mereka terancam. Hal ini mendorong Bayu untuk memimpin pesta penggalangan dana besar. Namun, perjalanan tersebut justru membawanya pada kesadaran baru: ambisi pribadi tidak akan pernah cukup untuk menyelamatkan desa dan, yang lebih penting, menyelamatkan jati dirinya sendiri.
Pemeran utama, Angga Yunanda, yang memerankan karakter Bayu, mengungkapkan antusiasmenya. Ia mengaku film ini menuntutnya untuk menampilkan sisi keaktoran yang sebelumnya belum pernah ia eksplorasi.
"Di film ini, saya dituntut untuk menampilkan sisi yang sebelumnya belum pernah saya eksplorasi. Berkolaborasi bersama jajaran pemeran lain yang juga memberikan dedikasi mereka untuk menampilkan yang terbaik," ujar Angga.
Bagi Angga, bekerja sama kembali dengan Wregas membuka perjalanan baru dalam eksplorasi keaktoran dan menjadi pengalaman berharga dan bermakna.
Prestasi ini kembali menegaskan rekam jejak Wregas Bhanuteja, apalagi sebelumnya film pendeknya juga pernah berkompetisi di Sundance pada tahun 2020. Sebelum lolos Sundance, 'Para Perasuk' juga telah meraih penghargaan bergengsi 'CJ ENM Award' di 'Asian Project Market BIFF 2024'.
Gen, menurut kamu, apakah film dengan genre supranatural yang disajikan dengan sudut pandang humanis ini akan lebih menarik daripada film horor biasa?