Takhta Goyang Lagi! Dua Raja Baru Muncul di Keraton Solo, Siapa Paku Buwono XIV yang Sah?
JAKARTA, GENVOICE.ID - Drama di Keraton Kasunanan Surakarta kembali pecah. Setelah wafatnya Paku Buwono (PB) XIII, dua kubu keluarga kerajaan kini saling mengklaim sebagai penerus sah takhta.
Kisruh ini berawal ketika Putri tertua PB XIII, GKR Timoer Rumbay Kusuma Dewayani, menobatkan KGPAA Hamangkunegoro sebagai Paku Buwono XIV.
Tapi tak lama kemudian, kubu lain yang dipimpin Maha Menteri KGPA Tedjowulan menggelar pertemuan keluarga besar keraton dan menetapkan KGPH Mangkubumi, putra tertua PB XIII, sebagai raja baru Keraton Solo.
"Pada saat itu juga ada pelantikan, seperempat jam kemudian langsung penobatan Paku Buwono XIV yang disaksikan para sentono dan kerabat," ujar GPH Surya Wicaksana alias Gusti Nenok, adik PB XIII, kepada wartawan.
Tapi suasana berubah panas. GKR Timoer menolak keras penobatan itu dan menyebut peristiwa tersebut sebagai langkah sepihak yang bisa memecah belah keraton.
"Saya kasihan sama keraton. Dipecah belah seperti ini. Ini mengulang suksesi PB XIII yang lalu," katanya.
Menurut GKR Timoer, sebelumnya sudah ada kesepakatan bahwa Hamangkunegoro akan menjadi penerus sah PB XIII. Ia bahkan menyebut kesepakatan itu sudah dibicarakan di depan Wapres Gibran Rakabuming Raka dan Wali Kota Solo Respati Ardi.
"Waktu itu kami sudah sepakat di hadapan mereka. Putra mahkota adalah Paku Buwono berikutnya," tegasnya.
Di sisi lain, kubu pendukung Mangkubumi yakin langkah mereka sah secara adat dan "berdasarkan kehendak Tuhan".
GRAy Koes Murtiyah Wandansari atau Gusti Moeng, adik PB XIII, menegaskan, "Gusti Bei (Mangkubumi) yang sekarang Paku Buwono XIV tidak minta lahir lebih tua, itu kehendak Allah. Sudah jadi paugeran, kalau tidak punya permaisuri, anak laki-laki tertua yang berhak," ujarnya.
Polemik ini mengingatkan publik pada sejarah kelam "matahari kembar" di Keraton Solo dua dekade lalu. Pada 2004, situasi serupa juga sempat memecah istana ketika Tedjowulan dan Hangabehi sama-sama mengklaim gelar PB XIII.
Kini, setelah sang raja mangkat, bayang-bayang konflik itu kembali menghantui Surakarta. Dua mahkota sudah dipasang, dua pihak sudah bersumpah setia. Tapi pertanyaannya, siapa sebenarnya raja sah Keraton Solo kali ini?