Pengembangan PLTS di Indonesia, Investor Butuh Kepastian Kebijakan dan Pelaksanaan Proyek

Genvoice.id | 13 Jul 2026

JAKARTA - Saat ini minat investor terhadap energi bersih sangat besar, hal ini didasari potensi energi surya Indonesia yang mencapai sekitar 3.294 gigawatt (GW). Namun hal ini hanya akan menjadi angka di atas kertas, jika Pemerintah tidak mampu mempercepat realisasi investasi.

Pakar Energi dari Universitas Gadjah Mada(UGM), Fahmi Radhi, mengatakan tantanganterbesar pengembangan Pembangkit ListrikTenaga Surya (PLTS) saat ini bukan lagi pada ketersediaan sumber daya, melainkan kepastian kebijakan dan pelaksanaan proyek.

Fahmi mengatakan minat investor terhadap energi bersih sebenarnya terus meningkat seiring kebutuhan industri global terhadap pasokanlistrik rendah emisi. Namun, investor membutuhkan kepastian mengenai jadwal pengadaan proyek, skema pembelian listrik, serta konsistensi regulasi agar investasi dapat segera direalisasikan. "Investor tidak hanya melihat besarnya potensi energi surya Indonesia, tetapi jugakepastian proyek yang bisa segera dikerjakan danmenghasilkan keuntungan," kata Fahmi.

Menurut dia, PLN memegang peran strategisdalam mempercepat transisi energi nasional.Kepastian rencana pengadaan pembangkit, kesiapan jaringan transmisi, hingga kemudahanproses bisnis akan menentukan seberapa cepatinvestasi energi surya dapat masuk ke Indonesia. Tanpa langkah tersebut, Indonesia berisikotertinggal dari negara lain yang lebih agresifmenawarkan kepastian investasi energi hijau.

Fahmi menilai percepatan investasi energisurya bukan hanya berkaitan dengan pencapaian target bauran energi baru terbarukan, tetapijuga menjadi instrumen penting untuk menarik investasi manufaktur, pusat data, industri kendaraan listrik, hingga sektor-sektor lainyang kini mensyaratkan penggunaan energibersih dalam rantai pasoknya. Karena itu, pengembangan PLTS harus dipandang sebagai strategi meningkatkan daya saing ekonomi nasional, bukan agenda lingkungan semata.

Pemerintah tambahnya perlu memastikankoordinasi yang lebih kuat antara kementerian terkait dan PLN agar berbagai rencana pengembangan energi surya tidak berhenti padatataran perencanaan.

"Indonesia sudah memiliki modal berupapotensi energi surya yang sangat besar. Sekarangyang dibutuhkan adalah keberanian mengeksekusi kebijakan secara konsisten sehingga potensi tersebut benar-benar berubahmenjadi investasi, lapangan kerja, danpertumbuhan ekonomi," kata Fahmi.

Biaya Investasi Turun

Di waktu lain, Peneliti Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandimenilai PLTS kini semakin menarik se￾cara ekonomi dan teknologi. "Teknologinya semakin mature sehingga harganya menurun kualitasnya meningkat," ujar Hafidz.

Dia pun menguraikan terjadi penurunanbiaya investasi yang signifikan. "Perbandingannya secara kasar, dulu investasi per 1 megawatt(MW) di kisaran 2 juta dollar AS, sekarang turunantara 700 ribu sampai 1 juta dollar AS, dengantingkat efisiensi meningkat dan daya panel jugamampu naik 3 kali lipat dari 200 wp kini menjadi700 ribu sampai 1 juta dollar AS, dengantingkat efisiensi meningkat dan daya panel jugamampu naik 3 kali lipat dari 200 wp kini menjadi700 wp. Durabilitas juga naik dari 20 tahun menjadi 30-35 tahun," jelasnya.

Menurut Hafidz, penurunan harga itu didorong oleh persaingan produsen panel suryaglobal yang sangat kompetitif sehingga mendorong inovasi. Produksi panel surya juga dalam negerimulai meningkat. Namun Hafidz mencatatkomponen Tingkat Komponen Dalam Negeri(TKDN)-nya baru berkisar 40-50 persen. "Kedepan pemerintah harus terus mendorong insentif dari sisi supply agar kualitas panel makinbaik, melalui R&D industri domestik," katanya.

Selain itu, ia mendorong adanya skema dukungan untuk dua segmen. Pertama, proyekpembangkit surya skala besar di atas 100 MW. Kedua, PLTS atap penggunaan sendiri di atas 1 MWuntuk industri dan kawasan green estate sepertiapartemen, hotel, perkantoran dan perumahan.

Hafidz juga menyoroti peran PLN. Ia menilaiPLN bisa masuk ke bisnis renewable sebagaiprovider dan mendisrupsi bisnis distribusinyamelalui mekanisme baru. "Peran PLN sangatpenting mengingat UU Ketenagalistrikan masih mengunci sistem bundling dimana PLNsatu-satunya distributor listrik yang memungkinkan jual beli listrik," paparnya.

Di tengah ketidakpastian global dan kenaikanharga energi primer batubara serta pelemahanrupiah, maka investasi pembangkit surya akanjauh lebih menguntungkan ke depan.

Sementara itu, Managing Director EnergyShift Institute Putra Adhiguna mengatakan potensi pengembangan energi surya Indonesiayang besar yakni mencapai sekitar 3.294 gigawatt (GW) mampu menjadi motor pertumbuhan investasi energi bersih, sekaligus mendukung target transisi energi nasional dalambeberapa tahun mendatang.

"Saat ini fokusnya adalah investasi lebih cepat untuk menyediakan energi bersih yang jugadicari oleh banyak industri strategis dan investor untuk menciptakan lapangan kerja," kataPutra kepada Antara akhir pekan lalu.

Ia mengatakan saat ini minat investor terhadap proyek pembangkit listrik tenaga surya(PLTS) sebenarnya cukup tinggi. Putra mengatakan yang dibutuhkan adalah kepastian jadwal pengadaan proyek oleh PLN agarinvestasi dapat segera direalisasikan.

Komitmen pemerintah membangun tambahan kapasitas pembangkit hingga 100 GW dinilai menjadisinyal positif bagi dunia usaha, teruta￾ma jika proyek-proyek tersebut dapatberjalan dalam 12-24 bulan ke depan.