Wamenkes Ungkap Hantavirus di Indonesia Tak Seganas Kasus Kapal Pesiar, Ini Bedanya
JAKARTA, GENVOICE.ID - Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, menegaskan kasus hantavirus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan kasus yang ramai diperbincangkan usai muncul laporan kematian di kapal pesiar luar negeri.
Menurut Dante, hingga saat ini pemerintah masih memantau perkembangan kasus tersebut, termasuk kemungkinan adanya penularan antar manusia yang masih dalam tahap penelitian.
Ia mengatakan, laporan kematian di kapal pesiar internasional belum sepenuhnya dipastikan berkaitan dengan penularan hantavirus dari manusia ke manusia. Karena itu, otoritas kesehatan masih terus melakukan investigasi lebih lanjut.
Dante menjelaskan, hantavirus memiliki dua jenis utama dengan tingkat keparahan yang berbeda. Jenis pertama adalah Hantavirus Fever Renal Syndrome (HFRS), yakni tipe yang menyerang ginjal dan umumnya ditandai gejala seperti demam tinggi, tubuh menguning, hingga gangguan fungsi ginjal.
Sementara jenis kedua adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru. Tipe ini disebut jauh lebih berbahaya karena memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi.
Menurut Dante, HPS bisa menyebabkan fatality rate hingga 60 sampai 80 persen, sehingga menjadi jenis hantavirus yang paling diwaspadai di berbagai negara.
Meski begitu, ia memastikan kasus yang ditemukan di Indonesia sejauh ini masih tergolong tipe ringan. Sejak 2023, Indonesia tercatat menemukan 23 kasus hantavirus dan seluruhnya merupakan jenis HFRS.
Karena itu, pemerintah meminta masyarakat tidak langsung panik menyikapi kabar soal hantavirus yang belakangan ramai dibahas di media sosial.
Dante menyebut hantavirus memiliki pola penyebaran yang mirip dengan leptospirosis karena sama-sama berkaitan dengan tikus sebagai reservoir atau perantara utama virus.
Penularan biasanya terjadi di lingkungan yang kotor, terutama wilayah pascabanjir atau area yang terkontaminasi urine tikus. Kondisi tersebut membuat risiko paparan virus meningkat apabila sanitasi lingkungan buruk.
Kementerian Kesehatan kini mulai meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan pemeriksaan hantavirus pada pasien yang diduga terkena leptospirosis. Langkah itu dilakukan sebagai bagian dari deteksi dini untuk mencegah penyebaran penyakit.
Meski memiliki tingkat kematian tertentu, Dante menegaskan hantavirus yang saat ini ditemukan di Indonesia masih berada dalam kategori yang relatif lebih ringan dibanding kasus HPS di sejumlah negara lain.
Pemerintah juga terus mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, terutama menghindari area yang berpotensi terpapar kotoran maupun urine tikus guna menekan risiko penularan penyakit tersebut.