Laporan Newsweek Soroti Posisi Iran dalam Konflik dengan AS dan Israel
JAKARTA, GENVOICE.ID - Konflik militer yang melibatkan Iran melawan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah terus memicu perhatian internasional. Dalam laporan terbaru, media AS Newsweek menilai Teheran sejauh ini berada pada posisi yang relatif menguntungkan dalam dinamika konflik tersebut.
Salah satu indikator yang disorot adalah langkah militer Washington yang harus memindahkan sebagian sistem pertahanan udara pentingnya ke kawasan Timur Tengah. Pasukan AS dilaporkan memindahkan komponen sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dari Korea Selatan untuk memperkuat perlindungan terhadap serangan balistik di wilayah konflik.
Langkah ini dinilai sebagai tanda tekanan besar yang dihadapi pasukan AS setelah lebih dari satu pekan serangan di berbagai wilayah Timur Tengah yang melibatkan militer Amerika dan sekutunya. Selain sistem THAAD, Pentagon juga disebut menarik rudal pencegat untuk sistem pertahanan udara Patriot Missile System dari sejumlah kawasan lain, termasuk wilayah Indo-Pasifik.
Ketegangan militer di kawasan itu memuncak sejak 28 Februari, ketika serangan yang melibatkan AS dan Israel dilaporkan menargetkan Teheran. Serangan tersebut disebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Situasi itu kemudian memicu serangan balasan dari Iran ke sejumlah target strategis.
Dalam responsnya, Iran dilaporkan meluncurkan serangan ke berbagai lokasi, termasuk kota Tel Aviv dan Yerusalem. Serangan juga menargetkan pangkalan militer AS di beberapa negara Arab serta fasilitas energi di kawasan Timur Tengah. Selain itu, Iran disebut sempat menutup jalur pelayaran vital di Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.
Seiring meningkatnya intensitas serangan, penggunaan sistem pertahanan udara canggih oleh Amerika Serikat dan sekutunya juga meningkat tajam. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan militer Amerika telah melancarkan sejumlah operasi militer besar sejak konflik tersebut dimulai.
Namun, serangan balasan dari Iran dilaporkan memberi tekanan pada persediaan rudal pencegat yang digunakan dalam sistem pertahanan udara seperti THAAD dan Patriot. Beberapa negara Teluk yang menjadi sekutu Washington juga ikut menghadapi serangan drone dan rudal, sehingga bergantung pada sistem pertahanan buatan AS.
Militer Iran bahkan mengklaim telah berhasil menyerang setidaknya empat radar sistem THAAD di beberapa pangkalan militer di Timur Tengah. Salah satu target yang disebut adalah Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania.
Seorang pejabat Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa Washington kini berupaya mengganti radar THAAD yang rusak akibat serangan drone di wilayah tersebut.
Di sisi lain, pemindahan sistem pertahanan udara dari Korea Selatan juga memicu kekhawatiran dari pemerintah Seoul. Presiden Lee Jae Myung menyatakan pihaknya telah menyampaikan keberatan atas langkah tersebut karena dinilai dapat melemahkan sistem pertahanan negara itu dari ancaman Korea Utara.
Meski demikian, Seoul mengakui bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan militer Amerika Serikat yang menempatkan hampir 30.000 personel militernya di Korea Selatan. Negara tersebut memang sangat bergantung pada dukungan militer Washington untuk menghadapi potensi ancaman dari Pyongyang.
Hubungan antara Korea Selatan dan Korea Utara sendiri secara teknis masih berada dalam status perang sejak berakhirnya Perang Korea pada 1953 yang hanya ditutup dengan perjanjian gencatan senjata. Hingga kini, ketegangan di Semenanjung Korea masih menjadi salah satu faktor keamanan utama di kawasan Asia Timur.