Ekstrem! Hujan Gila-gilaan Bikin Belasan Pesawat Gagal Mendarat di Soetta

Genvoice.id | 12 Jan 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Cuaca buruk yang melanda kawasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, bikin pagi Senin berjalan gak kayak biasanya.

Hujan deras yang turun sejak subuh memaksa sejumlah pesawat mengurungkan niat mendarat, bahkan harus berputar-putar di udara hingga dialihkan ke bandara lain.

AirNav Indonesia mencatat, sejak pukul 05.00 hingga 10.00 WIB, kondisi cuaca di sekitar bandara benar-benar tidak bersahabat. Jarak pandang di seluruh landasan pacu Soetta turun di bawah 1.000 meter, angka yang sudah melewati batas minimum aman untuk pendaratan pesawat.

Dalam situasi tersebut, petugas pemandu lalu lintas udara atau ATC langsung menerapkan prosedur keselamatan penerbangan. Hasilnya, terjadi peningkatan pesawat yang melakukan go-around alias membatalkan pendaratan, hingga dialihkan ke bandara alternatif.

Sejumlah pesawat terpaksa berputar-putar di udara dalam pola holding yang telah ditentukan. Durasi holding bervariasi, mulai dari 40 menit hingga satu jam. Di satu periode, jumlah pesawat yang menunggu giliran mendarat di udara bahkan mencapai sekitar 15 unit.

Tak sedikit pula pesawat yang akhirnya memilih mendarat di bandara lain. Total ada 16 pesawat yang melakukan divert ke berbagai kota, mulai dari Palembang, Semarang, Halim Perdanakusuma, Tanjung Pandan, Pangkalpinang, Solo, Yogyakarta International Airport, hingga Jambi.

AirNav menegaskan seluruh keputusan tersebut diambil semata-mata demi keselamatan penerbangan. Memaksakan pendaratan dalam kondisi jarak pandang terbatas dinilai sangat berisiko dan membahayakan penumpang maupun awak pesawat.

Meski ATC memberikan informasi cuaca, kondisi lalu lintas udara, serta rekomendasi teknis, keputusan akhir tetap berada di tangan pilot sebagai Pilot in Command. Hal ini sesuai dengan regulasi penerbangan nasional maupun standar internasional yang ditetapkan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional.

Untuk mencegah kepadatan di wilayah udara Jakarta, AirNav juga menerapkan manajemen lalu lintas penerbangan secara intensif. Beberapa bandara keberangkatan menerapkan ground delay, sementara interval keberangkatan diatur agar ruang udara tetap aman dan terkendali.

Koordinasi dengan BMKG dan pengelola bandara alternatif pun dilakukan secara berkelanjutan, terutama terkait perkembangan cuaca dan kesiapan bandara menerima pesawat divert.

AirNav memastikan pemantauan cuaca dan lalu lintas penerbangan dilakukan secara real-time. Di tengah cuaca ekstrem, keselamatan tetap menjadi prioritas utama, sembari berupaya meminimalkan dampak operasional bagi maskapai dan para penumpang.