Serangan Israel Lagi-lagi Tewaskan Warga Sipil Gaza, 10 Anak Jadi Korban Saat Antre Bantuan
JAKARTA, GENVOICE.ID - Serangan udara Israel kembali memakan korban jiwa di Jalur Gaza. Sedikitnya 15 orang tewas, termasuk 10 anak-anak, saat mereka tengah mengantre di depan pos pelayanan medis di Deir al-Balah, Gaza tengah. Mereka diketahui sedang menunggu bantuan nutrisi dan pengobatan.
Organisasi kemanusiaan Project Hope, yang mengelola titik layanan itu, langsung menutup operasional klinik setelah insiden tragis tersebut. "Keluarga-keluarga yang hanya ingin mendapatkan bantuan justru jadi target kekerasan. Ini jelas melanggar hukum kemanusiaan internasional," tegas CEO organisasi itu, Rabih Torbay.
Militer Israel mengklaim bahwa serangan tersebut menargetkan anggota Hamas yang terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023, namun menyampaikan penyesalan atas jatuhnya korban sipil dan menyatakan tengah melakukan penyelidikan.
"Apa salah kami? Anak-anak itu tak berdosa," ujar Mohammed Abu Ouda, warga yang selamat dari serangan tersebut. Ia menyaksikan langsung seorang ibu dan anaknya tergeletak tak bernyawa di tanah.
Dalam 24 jam terakhir, total korban tewas akibat serangan Israel di berbagai wilayah Gaza mencapai 82 orang. Termasuk di antaranya 15 warga yang meninggal dalam lima serangan terpisah di Kota Gaza.
Di tengah gempuran yang terus berlangsung, harapan akan tercapainya gencatan senjata kembali muncul. Hamas dikabarkan bersedia membebaskan 10 sandera jika gencatan senjata bisa segera diberlakukan. Presiden AS Donald Trump pun menyatakan optimisme bahwa kesepakatan bisa tercapai dalam satu atau dua minggu ke depan.
Namun proses perundingan masih terhambat. Israel menuntut hak untuk melanjutkan operasi militer usai masa gencatan senjata, sementara Hamas meminta jaminan bahwa serangan tidak akan kembali dilancarkan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa bila kesepakatan tercapai sesuai usulan gencatan senjata selama 60 hari yang didukung AS, maka Israel akan membuka pintu untuk pembicaraan menuju gencatan senjata permanen. Syaratnya tetap: Hamas harus dilucuti senjatanya dan tak lagi berkuasa di Gaza.
Sementara di lapangan, tank dan buldoser Israel dilaporkan bergerak ke arah kamp pengungsi di barat daya Khan Younis. Pasukan Israel melepaskan tembakan dan gas air mata, memaksa warga mengungsi sambil membawa barang seadanya di tengah cuaca panas ekstrem.
Rumah Sakit Nasser-salah satu fasilitas kesehatan terakhir yang masih aktif di Gaza selatan-mengalami lonjakan pasien luka-luka. Seorang staf medis bahkan mengirimkan video pecahan logam dari serangan yang menghantam dekat unit perawatan intensif. Logam itu masih panas saat ditemukan.
Ketegangan juga meningkat setelah Hamas menewaskan lima tentara Israel dalam serangan di Gaza utara pada Selasa lalu, menggunakan alat peledak yang ditanam sebelumnya.
Perang ini sendiri dimulai sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan lebih dari 1.200 warga Israel. Sejak saat itu, Israel meluncurkan operasi militer besar-besaran yang menurut laporan telah menewaskan lebih dari 57.000 warga Palestina dan memperparah krisis kemanusiaan, termasuk kelangkaan pangan akut.
Lebih dari 500 warga Palestina dilaporkan ditembak mati saat mencoba mengakses pusat distribusi makanan yang dikelola Gaza Humanitarian Foundation (GHF), lembaga logistik yang didukung Israel dan AS. GHF didirikan setelah Israel menuduh Hamas menyalahgunakan bantuan dari PBB-klaim yang dibantah banyak pihak kemanusiaan.
GHF mengklaim telah mendistribusikan lebih dari 69 juta porsi makanan, sementara organisasi kemanusiaan lainnya menilai kelompok itu bisa jadi terlibat dalam pelanggaran HAM berat karena proses distribusinya yang berisiko dan tidak netral.
Baru-baru ini, tiga warga sipil kembali tewas setelah pasukan Israel melepaskan tembakan ke arah warga yang mencoba mengakses pusat bantuan di Rafah, menurut laporan pejabat pertahanan sipil setempat.