Penurunan outlook Peringkat Bank BUMN Tekan Iklim Investasi di Indonesia
JAKARTA - Pakar ekonomi dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dian Anita Nuswantara menilai penurunan outlook peringkat bank-bank BUMN oleh Fitch dari stabil menjadi negatif berpotensi menekan iklim investasi di Indonesia. Menurutnya, revisi tersebut dinilai kurang tepat waktu karena terjadi di tengah ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak.
Dijelaskannya, kondisi ini dapat meningkatkan inflasi dan biaya produksi sehingga membuat investor lebih berhati-hati, menahan ekspansi, serta berisiko melemahkan rupiah, menaikkan suku bunga, dan membuat biaya investasi semakin mahal. "Investor mungkin menjadi lebih berhati-hati dalam menanamkan modal di Indonesia, terutama di sektor perbankan," ujarnya kepada Koran Jakarta, Selasa (10/3).
Seperti diketahui, perubahan outlook keempat bank BUMN itu mengikuti langkah Fitch sebelumnya yang merevisi outlook peringkat utang pemerintah Indonesia menjadi negatif dari stabil pada 4 Maret 2026, sementara rating tetap berada di level BBB.
Fitch menilai pemerintah masih memiliki kecenderungan kuat untuk memberikan dukungan kepada bank-bank pelat merah tersebut. Hal itu didorong oleh pentingnya peran sistemik bank-bank tersebut dalam sistem keuangan nasional. Mandiri, BRI, dan BNI misalnya memiliki pangsa simpanan yang besar di industri perbankan, yakni sekitar 10-21 persen dari total pangsa deposito per akhir 2025.
"Namun, kemampuan pemerintah untuk memberikan dukungan dinilai melemah, sebagaimana tercermin dalam outlook negatif pada peringkat kedaulatan Indonesia," tulis Fitch dalam laporannya.
Di sisi lain, Fitch Ratings tetap mempertahankan outlook stabil untuk PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BSI). Lembaga pemeringkat tersebut juga menegaskan Viability Rating (VR) BSI di level bbb- yang menjadi dasar utama penilaian peringkat jangka panjang bank syariah terbesar di Indonesia itu. Fitch menilai peringkat BSI masih berpeluang tetap stabil meski terjadi penurunan Government Support Rating (GSR) seiring perubahan peringkat sovereign, selama kondisi fundamental bank tetap kuat.
Meski demikian, risiko penurunan peringkat masih terbuka jika terjadi pelemahan signifikan pada permodalan, misalnya apabila rasio common equity tier 1 (CET1) turun di bawah 13 persen tanpa prospek pemulihan yang cepat. Fitch juga mencatat bahwa GSR bagi bank-bank BUMN berpotensi ikut turun apabila peringkat sovereign Indonesia mengalami penurunan.
Stabilitas Sistem Keuangan
Penguatan disiplin fiskal dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. Pemerintah juga perlu membatasi penggunaan bank BUMN sebagai instrumen kebijakan nonkomersial agar lembaga seperti BRI, BNI, dan Mandiri tetap beroperasi secara prudensial tanpa menanggung risiko kebijakan yang berlebihan. Dengan begitu, kepercayaan pasar terhadap sektor keuangan nasional dapat tetap terjaga.
Manajer Riset Seknas Fitra, Badiul Hadi, menilai penurunan outlook sejumlah bank BUMN oleh Fitch Ratings lebih mencerminkan meningkatnya risiko fiskal negara daripada memburuknya fundamental perbankan. Hal ini karena bank milik negara dianggap sangat terkait dengan kemampuan pemerintah memberi dukungan saat terjadi tekanan ekonomi.
"Dalam logika pemeringkatan global, bank yang dimiliki negara diasumsikan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah memberikan dukungan apabila terjadi tekanan sistemik. Ketika risiko fiskal negara dinilai meningkat, maka bank bank milik negara secara otomatis ikut terdampak," papar Badiul kepada Koran Jakarta, Selasa (10/3).
Belum lama ini, perusahaan pemeringkat global, Fitch Ratings memangkas outlook atau prospek peringkat jangka panjang utang dalam mata uang asing (Long-Term Foreign-Currency Issuer Default Rating/ IDR) empat bank milik negara Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Keempat bank tersebut yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), serta Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indo Eximbank.
Badiul menilai perubahan outlook tersebut juga menjadi sinyal bahwa investor mulai mencermati arah kebijakan fiskal Indonesia, terutama terkait ekspansi belanja pemerintah yang berpotensi menambah risiko utang dan meningkatkan biaya pendanaan. Meski begitu, peringkat kredit Indonesia dan bank-bank tersebut masih berada pada level investment grade, sehingga langkah Fitch lebih dipandang sebagai peringatan dini agar pemerintah tetap menjaga disiplin fiskal dan kredibilitas kebijakan.
Badiul menilai pemerintah perlu merespons penurunan outlook empat bank BUMN tersebut dengan memperkuat disiplin fiskal serta membatasi pemanfaatan bank milik negara sebagai instrumen kebijakan nonkomersial. Program-program strategis sebaiknya lebih banyak dibiayai melalui APBN atau skema pembiayaan khusus, sehingga bank seperti BRI, BNI, dan Mandiri dapat tetap menjalankan operasinya secara prudensial tanpa menanggung risiko kebijakan yang berlebihan.
"Langkah ini penting untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap sistem keuangan Indonesia," tegas ers/SB/YK/E-10