Aturan Medsos Buat Anak Makin Ketat, Negara Eropa Kompak Pasang Pagar Ikuti Jejak Indonesia dan Australia
JAKARTA, GENVOICE.ID - Tren membatasi akses media sosial untuk anak-anak ternyata bukan cuma sekadar obrolan di meja makan saja, tapi sudah jadi gerakan global yang bener-bener serius. Kalau kalian pikir cuma di Indonesia atau Australia saja yang ribet soal batasan umur digital, kalian salah besar. Gelombang aturan ketat ini sekarang sudah resmi menyeberang sampai ke benua Eropa. Negara-negara maju di sana mulai sadar kalau dunia maya yang selama ini kita anggap sebagai tempat seru-seruan tanpa batas, ternyata menyimpan risiko yang nggak main-main buat kesehatan mental dan perkembangan adik-adik kita yang masih di bawah umur. Mereka nggak mau lagi tinggal diam melihat anak kecil bebas berkeliaran di platform digital tanpa pengawasan yang jelas.
Fenomena ini pun memicu perdebatan panjang di kalangan para pengambil kebijakan di sana tentang bagaimana cara paling ampuh buat memverifikasi identitas pengguna secara akurat tanpa melanggar privasi. Dengan adanya langkah kompak dari berbagai negara besar, sepertinya masa-masa di mana anak SD bisa punya akun medsos dengan mudah bakal segera berakhir. Ini bukan cuma soal larangan, tapi tentang bagaimana menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat dan aman bagi generasi mendatang yang sudah terpapar teknologi sejak lahir, nih Gen.
Australia memang jadi pembuka jalan lewat aturan Online Safety Act yang mereka ketok di akhir 2024. Di sana, anak di bawah usia 16 tahun bakal dilarang total main medsos mulai akhir 2025. Indonesia pun sudah lebih dulu gercep lewat PP Tunas yang mengatur pembagian kelompok umur dari bawah 13 tahun sampai 18 tahun dengan pengawasan yang beda-beda. Langkah tegas dua negara ini akhirnya bikin Uni Eropa ikutan "panas" dan mulai menyiapkan kuda-kuda serupa, nih Gen.
Spanyol dan Prancis Paling Galak Soal Larangan HP di Sekolah
Di daratan Eropa, Spanyol jadi salah satu yang paling vokal. Perdana Menteri mereka, Pedro Sanchez, bahkan sampai mengeluarkan pernyataan keras soal kondisi media sosial saat ini bagi anak-anak. Menurut beliau, tanpa aturan yang jelas, medsos bisa jadi tempat yang sangat berbahaya karena minimnya kontrol hukum yang melindungi pengguna kecil.
"Wilayah tanpa hukum," itulah sebutan Sanchez untuk medsos bagi anak-anak. Karena alasan itulah, Spanyol berencana menutup akses medsos buat siapa pun yang umurnya masih di bawah 16 tahun. Prancis juga setali tiga uang; mereka sudah menyetujui undang-undang yang melarang medsos bagi anak di bawah 15 tahun. Bahkan, Prancis mengambil langkah lebih ekstrem dengan melarang total penggunaan ponsel di sekolah menengah supaya siswa bisa lebih fokus belajar dan berinteraksi secara nyata.
Teknologi Verifikasi Canggih dari Kids Wallet Sampai Identitas Digital
Nggak cuma sekadar melarang, negara-negara ini juga mulai adu canggih dalam menciptakan sistem verifikasi umur. Inggris misalnya, mereka kasih waktu satu tahun buat semua platform digital agar segera menemukan sistem cek umur yang paling valid. Denmark malah nggak tanggung-tanggung dengan mengucurkan dana hingga Rp426 miliar cuma buat bikin sistem identitas elektronik nasional yang fokus pada keselamatan anak di internet.
Lain lagi dengan Yunani yang lagi merancang aplikasi keren bernama Kids Wallet. Aplikasi ini nantinya jadi alat cek umur sekaligus remote control buat orang tua memantau aktivitas digital anaknya. Italia juga sangat detail sampai-sampai mereka memasukkan aturan soal kidfluencer atau artis cilik dalam undang-undang mereka agar tidak ada eksploitasi anak di media sosial. Sementara itu, Jerman kabarnya masih melakukan riset mendalam dan baru bakal mengeluarkan laporan resminya di tahun 2026 ini. Semua gerakan ini jadi bukti kuat kalau dunia digital memang perlu "pagar" yang kokoh biar nggak ada lagi yang jadi korban di balik layar gadget.