Aurelie Moeremans Bongkar Luka Lama Lewat Buku yang Ditulis Sendiri Tanpa Editor, Berikut Sinopsis Broken Strings

Genvoice.id | 11 Jan 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Aurelie Moeremans kembali mencuri perhatian publik, kali ini bukan lewat layar kaca, melainkan lewat sebuah buku yang sangat personal.

Pada 10 Oktober 2025, aktris yang kini menetap di Amerika Serikat itu merilis memoar berjudul Broken Strings. Menariknya, buku setebal 220 halaman tersebut dibagikan secara gratis dalam format PDF dan tersedia dalam dua bahasa.

Yang bikin banyak orang terkejut, Aurelie menulis Broken Strings tanpa bantuan editor sama sekali. Mulai dari penulisan, tata letak, hingga desain sampul, semuanya ia kerjakan sendiri. Istri Tyler Bigenho itu sengaja memilih tanggal 10 Oktober sebagai hari rilis, tanggal yang dulu menyimpan trauma besar dalam hidupnya. Lewat buku ini, Aurelie ingin mengubah makna hari tersebut menjadi simbol kemenangan atas masa lalu.

Dalam pengantarnya, Aurelie menegaskan bahwa ia tidak ingin lagi menunggu siapa pun. Ia memilih bergerak sendiri, menuliskan kisahnya dengan caranya sendiri, dan berdamai dengan trauma yang selama ini ia simpan rapat.

Broken Strings bukan sekadar autobiografi biasa. Buku ini adalah memoar personal yang mengisahkan pengalaman Aurelie sebagai penyintas grooming, manipulasi emosional, dan kekerasan dalam hubungan tidak sehat yang ia alami sejak usia sangat muda. Dalam ceritanya, Aurelie menggunakan nama samaran "Bobby" untuk sosok pria dewasa yang disebut telah merampas masa mudanya.

Awalnya, sosok tersebut digambarkan penuh perhatian dan kasih sayang. Namun seiring waktu, perlahan berubah menjadi figur yang manipulatif, abusif, dan menindas, baik secara emosional, fisik, maupun seksual. Aurelie menuliskan kisahnya dengan gaya yang jujur dan apa adanya, mencerminkan kondisi batin korban trauma yang penuh ingatan terpecah, rasa bersalah, ketakutan, dan kebingungan.

Lewat Broken Strings, Aurelie juga menunjukkan bagaimana hubungan yang dibungkus atas nama cinta bisa menjadi alat kontrol yang menghancurkan identitas dan harga diri perempuan, terutama ketika terdapat ketimpangan usia dan kuasa. Buku ini sekaligus menepis berbagai rumor lama tentang kehidupannya, termasuk isu pernikahan dan anak, serta meluruskan stigma yang kerap dilekatkan pada korban kekerasan.

Namun Broken Strings tidak berhenti pada kisah kelam. Buku ini juga menjadi catatan proses penyembuhan. Aurelie menuliskan bagaimana ia perlahan belajar memeluk dirinya sendiri, memaafkan masa lalu, dan keluar dari siklus trauma yang panjang dan menyakitkan. Dukungan keluarga digambarkan sebagai salah satu faktor terpenting yang membuatnya mampu bertahan dan bangkit.

Di bagian akhir, Broken Strings berubah menjadi suara harapan. Aurelie menegaskan bahwa bertahan hidup saja sudah merupakan bentuk keberanian, dan luka yang dulu dianggap aib justru bisa menjadi cahaya bagi orang lain.

"Ini kisahku, traumaku, tapi juga kesembuhanku. Dan saat tahu kisah ini bisa menolong orang lain, rasanya seperti keajaiban yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun," tulis Aurelie.