Aurelie Moeremans Bongkar Grooming Usia 15 Tahun, Ini Kenapa Traumanya Baru Terasa Saat Dewasa

Genvoice.id | 11 Jan 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Nama Aurelie Moeremans kembali jadi perbincangan setelah aktris tersebut merilis buku Broken Strings.

Bukan kisah glamor dunia hiburan yang ia bagikan, melainkan pengalaman pahit yang selama ini ia pendam. Dalam buku itu, Aurelie dengan jujur mengungkap bahwa dirinya pernah menjadi korban grooming sejak usia 15 tahun.

Istilah grooming mungkin masih terdengar asing di telinga sebagian orang, padahal dampaknya bisa sangat serius. Grooming bukan sekadar pendekatan biasa, melainkan relasi yang timpang antara orang dewasa dan anak di bawah umur, dibungkus dalam bentuk perhatian, kasih sayang, bahkan hubungan yang seolah romantis.

Psikolog klinis Arnold Lukito menjelaskan bahwa grooming selalu melibatkan ketidakseimbangan kuasa. Orang dewasa secara perlahan membangun kedekatan dengan anak, baik yang sudah dikenal maupun orang asing, lewat interaksi yang intens dan berlangsung dalam jangka waktu tertentu. Proses ini tidak terjadi secara instan, melainkan dirancang pelan-pelan agar korban merasa aman dan percaya.

Biasanya, tahap awal grooming terlihat manis. Pelaku memberi hadiah, mengajak jalan-jalan, atau memberi perhatian lebih dari yang seharusnya. Namun seiring waktu, perhatian itu berubah menjadi alat kontrol. Kontak fisik mulai muncul, batasan mulai dilanggar, dan korban sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang dijerat.

Yang bikin banyak orang bertanya-tanya, termasuk dalam kasus Aurelie, adalah mengapa trauma tersebut baru terasa saat korban sudah dewasa. Psikolog klinis Anastasia Sari Dewi menjelaskan bahwa anak-anak belum memiliki kemampuan kognitif dan emosional untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada diri mereka.

Saat peristiwa grooming berlangsung, anak cenderung bingung. Ingatan memang tersimpan, tapi emosi yang dirasakan masih abstrak dan belum bisa dimaknai secara utuh. Baru ketika seseorang tumbuh dewasa, pemahaman tentang batasan, relasi sehat, dan nilai sosial mulai terbentuk.

Di titik itulah, memori lama yang dulu terasa "biasa saja" ditafsirkan ulang dengan kacamata orang dewasa. Kesadaran baru ini sering kali memicu reaksi emosional yang sangat kuat, mulai dari rasa marah, takut, hingga trauma mendalam yang berdampak pada kesehatan mental.

Kisah Aurelie Moeremans lewat Broken Strings akhirnya membuka mata banyak orang bahwa grooming bukan cuma soal masa lalu, tapi luka yang efeknya bisa muncul bertahun-tahun kemudian. Cerita ini juga jadi pengingat bahwa pengalaman korban tidak pernah sepele, meski baru dipahami setelah waktu berjalan jauh.