Maia Estianty Dikritik Usai Bahas Rezeki dan Sedekah, Dianggap Tak Peka soal Kemiskinan

Genvoice.id | 10 Oct 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Musisi Maia Estianty menuai kritik setelah membagikan pandangannya mengenai rezeki, kerja keras, dan sedekah melalui akun Threads pribadinya. Unggahan tersebut memicu perdebatan karena sejumlah warganet menilai pandangannya kurang mempertimbangkan kesulitan ekonomi yang dialami masyarakat.

Dalam utasnya, Maia mengibaratkan rezeki manusia dengan burung liar yang harus terbang untuk mendapatkan makanan. Menurutnya, keyakinan bahwa setiap makhluk hidup telah dijamin rezekinya tidak berarti seseorang bisa berpangku tangan tanpa berusaha.

"Melihat burung liar makan, (aku) berpikir memang benar (pernyataan yang mengatakan) semua makhluk hidup rezekinya ditanggung Allah. Tapi burung juga kalau malas terbang enggak bakal mendapat makanan," tulis Maia.

Ibu tiga anak tersebut kemudian mengaitkan usaha mencari nafkah dengan kebiasaan berbagi kepada sesama. Ia berpendapat, seseorang yang malas berusaha bisa mengalami kesulitan mendapatkan rezeki. Menurutnya, kondisi itu juga bisa semakin berat apabila seseorang tidak pernah bersedekah, baik dalam bentuk uang maupun tenaga.

"(Kalau) kita malas ya rejeki kita seret. Akan (semakin) seret lagi kalau enggak pernah bersedekah (dengan uang atau tenaga)," ujarnya.

Namun, pandangan tersebut justru menuai tanggapan kritis dari sejumlah pengguna media sosial. Sebagian warganet menilai persoalan kemiskinan tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan tingkat kerja keras atau kebiasaan bersedekah seseorang.

Salah satu komentar yang ramai disorot menilai imbauan bersedekah kurang tepat jika ditujukan kepada masyarakat yang bahkan masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Warganet tersebut juga menyinggung gaya hidup Maia yang dinilai jauh berbeda dari kondisi masyarakat berpenghasilan rendah.

"Orang miskin jangan disuruh sedekah Bun. Untuk makan besok saja mereka mungkin tidak ada. Kok malah disuruh milih antara sedekah dan isi perut sih. Kalau Bunda masih ke luar negeri pakai PJ jangan bahas ini dulu. Enggak nyambung," tulis seorang pengguna Threads.

Kritik lainnya menyoroti anggapan bahwa kekayaan dan kemiskinan hanya ditentukan oleh usaha individu. Seorang warganet menilai kemiskinan struktural juga perlu diperhitungkan karena berkaitan dengan sistem dan kondisi sosial-ekonomi yang lebih luas.

"Bosen ah. Utasnya tentang kekayaan mulu. Kemiskinan struktural tuh bukan soal sedekah. Memang sistemnya yang dibuat seperti itu," tulis pengguna lainnya.

Ada pula warganet yang menggunakan analogi burung untuk menanggapi pernyataan Maia. Menurutnya, kemampuan makhluk hidup untuk mencari makanan juga dapat terhambat oleh kondisi lingkungan di sekitarnya.

"Burung juga kesulitan terbang cari makan kalau hutannya kebakaran sampai berbulan-bulan. Ngomong begini sambil keliling desa Portugal mah gampang," tulis pengguna Threads lainnya.

Perdebatan tersebut membuat Maia mendapat kritik karena dianggap tone deaf atau kurang peka terhadap realitas yang dihadapi masyarakat. Sejumlah warganet menilai pembahasan mengenai rezeki dan sedekah perlu mempertimbangkan faktor lain, seperti keterbatasan ekonomi dan ketimpangan sosial.

Di sisi lain, unggahan Maia menekankan pentingnya ikhtiar dan berbagi kepada sesama. Perbedaan respons terhadap utas tersebut memperlihatkan perdebatan mengenai sejauh mana kerja keras dan sedekah berperan dalam kehidupan ekonomi seseorang, terutama ketika sebagian masyarakat masih berjuang memenuhi kebutuhan pokok.