Viral! Video AI 'Brain Rot' Isi Internet dengan Karakter Gila, dari Hiu Pakai Sneakers hingga Balerina Kepala Kopi
JAKARTA, GENVOICE.ID - Fenomena video AI "brain rot" tengah membanjiri internet dan menyita perhatian banyak pengguna muda. Video berdurasi pendek ini dipenuhi karakter absurd seperti hiu pakai sneakers, balerina berkepala cappuccino, dan berbagai visual aneh lainnya yang semakin viral di TikTok dan media sosial lainnya.
Salah satu pelopor tren ini adalah OpenArt, startup AI yang didirikan pada 2022 oleh dua mantan karyawan Google. Kini mereka mencatat sekitar 3 juta pengguna aktif bulanan, dan baru-baru ini meluncurkan fitur revolusioner: "One-Click Story."
Fitur ini memungkinkan siapa pun membuat video berdurasi satu menit hanya dengan satu kalimat, lirik lagu, atau skrip singkat. Hasilnya bisa berupa vlog karakter, video musik, hingga video edukasi. OpenArt bahkan melihat potensi penggunaannya untuk iklan profesional.
Ada tiga template utama, yakni Character Vlog yang mengunggah gambar karakter, lalu tambahkan prompt, Music Video, dengan sistem akan memvisualisasikan liriknya lalu ada Explainer, yang cocok untuk membuat video edukatif.
Video dapat diedit ulang melalui storyboard editor, dan pengguna bisa menyesuaikan hasil dengan prompt yang lebih spesifik. Platform ini menggabungkan lebih dari 50 model AI populer, termasuk DALLE-3, GPT, Imagen, Flux Kontext, dan Stable Diffusion.
Tujuannya untuk membuka pintu lebar bagi kreator AI pemula di tengah popularitas konten video AI yang terus meledak, walau tak lepas dari kontroversi.
Namun di balik inovasinya, ada risiko hukum yang perlu diperhatikan. Dalam pengujian, fitur vlog karakter masih memungkinkan pengguna membuat video dengan tokoh seperti Pikachu, SpongeBob, hingga Super Mario, yang jelas terikat hak cipta.
Pada Juni lalu, Disney dan Universal bahkan menggugat perusahaan AI Midjourney karena pelanggaran hak cipta atas gambar-gambar yang dihasilkan. Jika video pengguna dianggap melanggar IP, bisa langsung dihapus dari platform, dan pengguna berisiko menghadapi tuntutan hukum.
"Kami sangat berhati-hati soal pelanggaran IP. Secara default, model kami akan menolak konten IP yang dilindungi. Tapi, terkadang masih bisa lolos," kata Coco Mao, CEO dan salah satu pendiri OpenArt.
Mao menyebut timnya terbuka untuk bernegosiasi lisensi dengan pemilik IP besar. Salah satu keunggulan OpenArt, menurutnya, adalah kemampuan menjaga konsistensi karakter di seluruh video,sesuatu yang belum banyak dikuasai oleh generator video AI lain.
"Kalau karakternya berubah-ubah, penonton susah terlibat dalam cerita," jelas Mao.
OpenArt sudah merencanakan berbagai pengembangan, termasuk:
-
Percakapan antara dua karakter dalam satu video
-
Aplikasi versi seluler untuk pengalaman yang lebih mudah
Layanan OpenArt menggunakan sistem berbasis kredit, dengan empat paket berlangganan:
-
Basic: Dolar AS 14/bulan untuk 4.000 kredit (4 One-Click Stories, 40 video, 4.000 gambar, 4 karakter)
-
Advanced: Dolar AS 30/bulan untuk 12.000 kredit (12 One-Click Stories)
-
Infinite: Dolar AS 56/bulan untuk 24.000 kredit
-
Team Plan: Dolar AS 35/bulan per anggota
Dengan total pendanaan sebesar 5 juta dolar AS dari Basis Set Ventures dan DCM Ventures, serta posisi arus kas yang positif, OpenArt mengklaim akan mencapai pendapatan tahunan lebih dari 20 juta dolar AS.
Di tengah ketegangan antara kreativitas dan hukum, OpenArt menawarkan gambaran menarik tentang masa depan konten digital. Apakah ini era baru bagi kreator, atau ancaman baru bagi hak cipta? Hanya waktu yang akan menjawab.