Pakai AI, Tiongkok Ciptakan Sistem Deteksi Banjir dan Longsor Super Akurat, Warga Bisa Pantau Langsung Lewat HP
JAKARTA, GENVOICE.ID - Sebuah inovasi canggih berbasis kecerdasan buatan (AI) resmi diluncurkan untuk masyarakat di Provinsi Sichuan, Tiongkok barat daya.
Dilansir dari Antara, sistem ini menjanjikan peringatan dini banjir bandang dan aliran longsor secara real-time dengan presisi tinggi, dan kini dapat diakses langsung melalui program mini di aplikasi WeChat.
Sistem mutakhir ini dikembangkan oleh Institut Bahaya Gunung dan Lingkungan (IMHE) yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (Chinese Academy of Sciences). Melalui integrasi data dari berbagai instansi, mulai dari observasi cuaca hingga survei geologi, sistem ini mampu memantau ratusan ngarai rawan bencana secara langsung.
Menurut laporan harian Science and Technology Daily pada Kamis (10/7), teknologi ini mengandalkan model prakiraan curah hujan berpresisi tinggi yang mencakup analisis curah hujan sejam terakhir dan prediksi dua jam ke depan, sangat berguna menjelang puncak musim banjir yang biasanya dimulai akhir Juli.
Salah satu fitur andalan sistem ini adalah kemampuannya menampilkan peta risiko bencana untuk 24 jam, 12 jam, dan 2 jam ke depan, lengkap dengan notifikasi peringatan yang dikirim melalui SMS, WeChat, dan sistem tanggap darurat.
"Warga bisa memeriksa rekaman pemantauan secara live, data curah hujan, prakiraan cuaca, hingga status bahaya untuk memutuskan apakah mereka perlu evakuasi atau tidak," ujar Ouyang Chaojun, peneliti IMHE.
Menariknya, warga juga dapat mengunggah foto potensi bahaya seperti retakan tanah atau aliran air yang tak biasa ke dalam sistem. Gambar ini akan membantu pemerintah daerah mengevaluasi dan merespons potensi bencana secara cepat dan tepat.
Kecanggihan sistem ini tak lepas dari dukungan Pusat Superkomputer Nasional di Chengdu, yang mempercepat proses simulasi dan prediksi. Dengan algoritma yang efisien, sistem mampu memperkirakan bencana dengan tingkat akurasi tinggi dan waktu respons yang jauh lebih cepat dibanding metode konvensional.
Sejak diuji coba pada Mei lalu di Kota Mianyang, sistem ini sudah memantau 676 ngarai dan mengeluarkan lebih dari 2.000 peringatan, termasuk sejumlah kasus aliran longsor dan banjir bandang yang berhasil diprediksi lebih awal.
Langkah ini menandai era baru mitigasi bencana berbasis teknologi di kawasan rawan seperti Sichuan. Dengan sistem yang mudah diakses masyarakat dan ditenagai oleh AI, keputusan evakuasi tak lagi harus menunggu sirene darurat, melainkan bisa diambil secara mandiri, cepat, dan berbasis data.
Jika terbukti sukses di Sichuan, bukan tidak mungkin sistem serupa akan diterapkan di berbagai wilayah rawan bencana lainnya, bahkan lintas negara.