Indonesia Butuh 12 Juta Talenta Digital untuk Dorong Inovasi AI Nasional
JAKARTA, GENVOICE.ID - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengungkapkan bahwa Indonesia memerlukan sekitar 12 juta talenta digital hingga tahun 2030 untuk mendukung laju pertumbuhan ekonomi digital nasional, termasuk dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Dalam sebuah diskusi terbatas (FGD) yang digelar di Batam pada Kamis (10/7), Nezar menyampaikan bahwa kebutuhan tenaga digital nasional sangat mendesak. Saat ini, Indonesia baru mampu mencetak sekitar 3 juta talenta digital, meski jumlah tersebut sudah mencakup hasil dari berbagai program pelatihan lintas sektor.
"Artinya, masih ada gap sekitar 9 juta yang harus dikejar dalam waktu kurang dari satu dekade. Untuk itu, pengembangan program talenta digital harus dipercepat dan diperluas," ujar Nezar, dikutip dariANTARA News, Kamis (10/7).
Untuk menjawab tantangan ini, Kementerian Komunikasi dan Digital telah menggulirkan sejumlah inisiatif, seperti Digital Talent Scholarship dan Digital Leadership Academy, yang ditujukan untuk memperkuat kompetensi digital masyarakat.
Nezar juga menyinggung inisiatif baru yang tengah digarap, yaitu pembentukan AI Talent Factory-sebuah ekosistem pelatihan sumber daya manusia khusus untuk teknologi kecerdasan buatan. Program ini akan melibatkan kerja sama strategis dengan perusahaan teknologi global, universitas, dan mitra nasional, serta didukung oleh infrastruktur komputasi canggih.
"AI Talent Factory tidak hanya bertujuan mencetak pakar-pakar AI, tapi juga membangun ekosistem teknologi yang kokoh, termasuk penyediaan data center dan kekuatan komputasi nasional yang mumpuni," jelasnya.
Namun, Nezar mengingatkan bahwa sejumlah tantangan besar masih perlu diatasi, mulai dari keterbatasan infrastruktur digital, regulasi data yang belum memadai, hingga kurangnya kolaborasi antara sektor publik dan swasta.
Ia menegaskan bahwa riset dan inovasi (R&D) adalah kunci untuk memperkuat daya saing Indonesia dalam lanskap digital global. "AI bukan hanya soal data dan algoritma, tapi tentang bagaimana kita membangun solusi yang berdampak langsung pada masyarakat dan industri," tuturnya.
Menariknya, menurut survei internal Kementerian Kominfo, masyarakat Indonesia cenderung optimistis terhadap kehadiran teknologi AI. Sekitar 80 persen responden menyatakan percaya bahwa AI dapat membawa manfaat besar bagi kehidupan sehari-hari dan pertumbuhan ekonomi digital nasional.