Harga Bensin Malaysia Bikin Iri? Selisih dengan Pertalite Ternyata Segini
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang diterapkan Malaysia kembali menjadi sorotan setelah pemerintah negara tersebut memilih mempertahankan harga bensin di tengah tekanan pasar energi global. Langkah itu membuat harga BBM di Negeri Jiran tetap berada pada level rendah dibandingkan sejumlah negara lain, termasuk Indonesia.
Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim menegaskan pemerintah tidak berencana menaikkan harga BBM bersubsidi meskipun biaya yang harus ditanggung negara sangat besar. Menurutnya, perlindungan terhadap daya beli masyarakat menjadi salah satu prioritas utama pemerintah ketika harga energi dunia masih berfluktuasi.
Dalam sebuah acara di Sungai Petani, Anwar mengungkapkan bahwa anggaran subsidi energi Malaysia sempat mencapai RM7 miliar per bulan ketika harga minyak dunia mengalami lonjakan. Namun, seiring perubahan kondisi pasar, angka tersebut kini turun menjadi sekitar RM4 miliar per bulan.
Jika dikonversikan ke rupiah dengan kurs sekitar Rp4.400 per ringgit Malaysia, subsidi sebesar RM7 miliar setara dengan sekitar Rp30,8 triliun dalam sebulan. Sementara itu, subsidi RM4 miliar mencapai kurang lebih Rp17,6 triliun per bulan.
Anwar mengakui beban fiskal yang ditanggung pemerintah cukup besar. Meski demikian, ia menilai kebijakan tersebut masih dapat dijalankan melalui pengelolaan anggaran yang lebih efisien serta upaya menutup berbagai kebocoran keuangan negara. Ia juga menegaskan pemerintah tidak ingin menambah utang hanya untuk mempertahankan subsidi energi.
Berkat kebijakan tersebut, harga bensin RON95 di Malaysia saat ini tetap berada di angka RM1,99 per liter. Dengan kurs yang sama, harga tersebut setara sekitar Rp8.756 per liter dan menjadi salah satu yang termurah di kawasan.
Situasi ini berbeda dengan Indonesia yang baru saja mengalami penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Per 10 Juni 2026, PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter. Sementara Pertamax Green 95 kini dibanderol Rp17.000 per liter setelah sebelumnya berada di level Rp12.900 per liter.
Meski demikian, pemerintah Indonesia masih mempertahankan harga BBM subsidi. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar berada di angka Rp6.800 per liter.
Jika dibandingkan secara langsung, harga bensin RON95 Malaysia masih lebih murah daripada Pertalite di Indonesia. Selisih keduanya mencapai sekitar Rp1.244 per liter.
Perbedaan harga tersebut mencerminkan perbedaan strategi kebijakan energi yang diterapkan kedua negara. Malaysia memilih mempertahankan subsidi dalam jumlah besar untuk menjaga harga BBM tetap rendah bagi masyarakat. Di sisi lain, Indonesia menerapkan kombinasi antara BBM subsidi dan nonsubsidi dengan mekanisme penyesuaian harga yang mengikuti perkembangan pasar energi global.
Kebijakan subsidi energi memang dapat membantu menjaga daya beli masyarakat, tetapi di saat yang sama juga menuntut kemampuan fiskal yang kuat. Karena itu, setiap negara memiliki pendekatan berbeda dalam menyeimbangkan kebutuhan masyarakat dengan kondisi keuangan negara.