Strategi Baru H&M, 160 Toko Ditutup demi Fokus ke Belanja Online

Genvoice.id | 10 Apr 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Raksasa fashion global H&M bersiap melakukan perubahan besar dalam strategi bisnisnya dengan menutup sekitar 160 toko di seluruh dunia sepanjang 2026. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk memperkuat fokus pada penjualan digital dan meningkatkan efisiensi operasional.

Keputusan tersebut bukan hal yang tiba-tiba. Sebelumnya, H&M juga telah menutup lebih dari 160 gerai dalam beberapa waktu terakhir sebagai bagian dari penyesuaian terhadap perubahan perilaku konsumen yang semakin beralih ke platform online.

Dalam laporan keuangan terbarunya, perusahaan menyebut bahwa proses penutupan dan renovasi toko sempat memberikan dampak negatif terhadap penjualan pada kuartal pertama 2026. Hal ini terjadi karena adanya pengurangan jumlah gerai fisik serta penyesuaian operasional yang masih berlangsung.

Meski begitu, H&M optimistis strategi ini akan membawa dampak positif dalam jangka panjang. Optimalisasi toko dilakukan untuk meningkatkan profitabilitas, terutama dengan menekan biaya operasional seperti tenaga kerja, sekaligus memaksimalkan kinerja toko-toko unggulan yang dinilai paling menguntungkan.

Saat ini, kontribusi penjualan online terhadap total pendapatan H&M sudah mencapai sekitar 30 persen. Angka ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam pola belanja konsumen, yang kini lebih mengandalkan kemudahan dan fleksibilitas platform digital.

Pengamat industri ritel juga menilai langkah H&M sejalan dengan tren global. CEO Retail Tech Media Nexus, Dominick Miserandino, menyebut konsumen kini semakin sensitif terhadap harga, lebih aktif berbelanja online, dan tidak lagi terlalu loyal terhadap toko fisik.

Perubahan perilaku ini mendorong banyak perusahaan ritel untuk meninjau ulang strategi mereka, termasuk mengurangi ketergantungan pada gerai konvensional dan memperkuat ekosistem digital.

Dengan langkah ini, H&M berupaya tetap kompetitif di tengah persaingan industri fashion yang semakin ketat, sekaligus menyesuaikan diri dengan era belanja modern yang serba online.