Kapan Puncak Kemarau 2026? BMKG Ungkap Wilayah yang Terdampak Lebih Awal
JAKARTA, GENVOICE.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis prediksi terbaru terkait musim kemarau tahun 2026 di Indonesia. Berdasarkan data tersebut, puncak musim kemarau diperkirakan akan datang lebih cepat dari biasanya di sebagian besar wilayah, meskipun ada juga daerah yang masih sesuai dengan pola normal.
Mengacu pada informasi resmi, puncak kemarau 2026 diprediksi terjadi dalam rentang Juli hingga September, dengan dominasi pada bulan Agustus. Tercatat, sekitar 61,4% wilayah atau 429 Zona Musim (ZOM) akan mengalami puncak kemarau di bulan tersebut.
Wilayah yang Alami Puncak Kemarau Juli 2026
Beberapa daerah yang diperkirakan lebih dulu mencapai puncak kemarau pada Juli meliputi:
- Sebagian wilayah Sumatera
- Sebagian kecil Jawa
- Sebagian Nusa Tenggara
- Kalimantan bagian tengah dan utara
- Sebagian wilayah Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara
- Sebagian kecil Maluku
- Papua Barat bagian tengah serta Papua bagian timur
Wilayah dengan Puncak Kemarau Agustus 2026
Bulan Agustus menjadi periode paling dominan. Wilayah yang terdampak antara lain:
- Sumatera bagian tengah hingga selatan
- Jawa bagian tengah sampai timur
- Bali, NTB, dan sebagian NTT
- Sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi
- Sebagian wilayah Maluku dan Maluku Utara
- Sebagian Pulau Papua
Wilayah yang Puncaknya September 2026
Sementara itu, beberapa daerah diprediksi mengalami puncak kemarau lebih lambat, yakni pada September:
- Sebagian Lampung
- Sebagian kecil Jawa
- Sebagian besar NTT
- Sulawesi bagian utara dan timur
- Maluku Utara dan sebagian Maluku
- Sebagian kecil wilayah Papua
Fakta Penting Musim Kemarau 2026
Ada sejumlah hal penting yang perlu diketahui terkait musim kemarau tahun depan. Fenomena La Niña lemah yang terjadi sejak Oktober 2025 telah berakhir pada Februari 2026, sehingga tidak lagi memberi pengaruh signifikan terhadap pola cuaca.
Musim kemarau sendiri diperkirakan mulai berlangsung sejak April hingga Juni 2026, dimulai dari wilayah Nusa Tenggara lalu menyebar ke berbagai daerah lain di Indonesia. Menariknya, hampir setengah wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal kemarau yang lebih cepat dari biasanya.
Dari sisi curah hujan, sekitar 64,5% wilayah diperkirakan mengalami kondisi lebih kering dari normal. Bahkan, sebagian besar daerah juga berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih panjang.
Dengan dominasi puncak kemarau di bulan Agustus dan kecenderungan kondisi yang lebih kering, masyarakat diimbau untuk mulai waspada terhadap potensi kekeringan serta dampaknya, terutama di sektor pertanian dan ketersediaan air bersih.