Trump Klaim Dapat Triliunan Dolar dari Minyak Venezuela, Dunia Bingung Ini Jual Beli atau Beli Borongan
JAKARTA, GENVOICE.ID - Donald Trump kembali melakukan hal yang paling Trump dari semua hal: berbicara soal uang dengan satuan yang bikin kalkulator menyerah.
Kali ini, Presiden Amerika Serikat itu mengklaim negaranya bakal meraup miliaran hingga triliunan dolar dari penjualan minyak Venezuela, setelah AS melancarkan operasi militer ke negara Amerika Latin tersebut.
Dalam wawancara yang terdengar seperti presentasi bisnis dadakan, Trump menyebut Amerika "mengambil" minyak Venezuela senilai miliaran dolar, yang menurutnya bisa berkembang menjadi ratusan miliar, lalu naik kelas lagi menjadi triliunan. Urutannya cepat, nyaris seperti promo marketplace: beli sekarang, bonus angka nol.
"Kami akan berada di sana sampai kami memperbaiki keadaan negara itu," ujar Trump, seolah Venezuela adalah rumah yang atapnya bocor dan AS datang sambil membawa tangga, palu, dan tanker minyak.
Tak berhenti di situ, Trump juga mengklaim otoritas sementara Venezuela sepakat menyerahkan 30 hingga 50 juta barel minyak kepada Amerika Serikat. Jumlah ini terdengar seperti isi gudang logistik, tapi disampaikan dengan santai, seakan sedang menyebut stok galon air di kantor.
Lebih menarik lagi, Trump menjanjikan uang hasil penjualan minyak itu akan digunakan untuk kepentingan rakyat kedua negara. Rakyat yang mana, bagaimana pembagiannya, dan siapa yang pegang struk pembelian-semua masih menjadi misteri yang belum terjawab.
Sebagai bagian dari "kesepakatan", Trump juga mengatakan Venezuela nantinya hanya akan membeli produk buatan Amerika. Dengan kata lain, setelah minyaknya diambil, belanjanya wajib di toko yang sama. Konsep ekonomi ini membuat sejumlah pengamat terdiam, bukan karena kagum, tapi karena sedang mencoba memahami logikanya.
Semua pernyataan ini muncul setelah AS melancarkan serangan besar-besaran ke Venezuela pada 3 Januari, yang diklaim berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Washington menyebut keduanya akan diadili atas tuduhan "narko-terorisme", sementara Caracas merespons dengan meminta pertemuan darurat PBB-langkah klasik ketika negara Anda tiba-tiba jadi lokasi operasi militer negara lain.
Di dalam negeri Venezuela, Mahkamah Agung kemudian menunjuk Wakil Presiden Delcy Rodriguez sebagai presiden sementara. Pergantian kekuasaan berlangsung cepat, nyaris secepat Trump menaikkan proyeksi keuntungan dari miliaran ke triliunan dolar.
Sementara itu, publik internasional masih mencoba mencerna situasi: apakah ini intervensi militer, kesepakatan dagang, atau flash sale minyak terbesar sepanjang sejarah? Yang jelas, jika angka-angka versi Trump benar, maka Venezuela bukan sekadar negara penghasil minyak-melainkan ATM raksasa yang kebetulan berdiri di Amerika Selatan.
Dan seperti biasa, dunia hanya bisa menunggu pernyataan berikutnya. Karena jika hari ini triliunan, siapa tahu besok sudah naik jadi "tak terhingga."
Artikel Terkait
Artikel terkait tidak ditemukan.